“Saya bersyukur tidak punya motor,” kata Pak Zuhdi saat kami meminta para ikhwah di Gresik Utara berbagi kiat manajemen waktu tilawah. Biasanya orang bersyukur karena punya sesuatu, beliau ini justru bersyukur karena tidak punya.
“Ke mana-mana saya naik kendaraan umum atau jalan kaki.” Kemarin malam, beliau datang ke lokasi halaqah juga naik Bus Trans Jatim. “Waktu di kendaraan itulah yang saya pakai untuk tilawah. Alhamdulillah tetap bisa terpenuhi satu juz sehari.”
MasyaAllah… Kesibukan sebagai seorang Ustadz yang mengajar dan mendampingi para santri membuatnya tidak punya banyak waktu khusus untuk tilawah, tetapi tetap bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sebulan sekali ketika berada di kendaraan atau sambil jalan. Sebelum sesibuk sekarang, kiatnya adalah membaca empat halaman setiap selesai shalat fardhu.
Dan yang tak kalah istimewa adalah rasa syukurnya. Maqam apakah yang lebih tinggi daripada syukur? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjawab: “Maqam syukur menghimpun seluruh maqam keimanan. Karena itu, ia menjadi maqam yang paling tinggi dan paling luhur.”
Ustadz Adib punya kiat berbeda. Di tengah kesibukannya mengajar dan wirausaha kuliner, beliau merutinkan waktu antara bakda Maghrib hingga Isya’ untuk tilawah.
“Itu waktu paling longgar untuk tilawah,” ungkapnya sembari menceritakan kesibukan jualan makanan yang waktu masaknya lebih lama daripada waktu jualannya.
Pak Ghozali beda lagi. Ikhwah asal Panceng ini tidak punya waktu khusus untuk tilawah. Maka begitu ada kesempatan ia gunakan untuk tilawah.
“Sering kali ada tamu ke rumah bakda Isya’ mengajak ngobrol sampai malam. Otomatis saat itu tidak bisa tilawah. Tapi alhamdulillah tetap bisa 12 kali khatam setahun.”
MasyaAllah, tabaarakallah. ..
Bagaimana dengan kita? Sudahkah rasa syukur kita terwujudkan dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an? Sudahkan kita menyempatkan untuk tilawah Al-Qur’an minimal sebulan sekali khatam?
اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ
Bacalah (khatamkan) Al-Qur’an dalam waktu sebulan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Sungguh, tarbiyah tidak boleh berjarak dengan Al-Qur’an. Sebab sebagaimana Surah Al-Jumu’ah ayat 2, tarbiyah itu isinya adalah tilawah, tazkiyah, dan taklim. Dan tujuan tarbiyah adalah melahirkan generasi rabbani yang karakter utamanya adalah mengajarkan Al-Qur’an dan terus mempelajarinya.
وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
Akan tetapi, jadilah kalian orang-orang rabbani, karena kalian senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan karena kalian terus mempelajarinya. (QS. Ali ‘Imran: 79)
Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah untuk memenuhinya, menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an sehingga punya himmah untuk mendakwahkannya. Allaahummarhamnaa bil Qur’an. [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]
