Beranda Materi Tarbiyah Islam sebagai Fikrah (Al-Islamu Fikratan)

Islam sebagai Fikrah (Al-Islamu Fikratan)

0
islam sebagai fikrah

Di panggung peradaban dunia hari ini, manusia tidak pernah lepas dari pergulatan gagasan, pemikiran, dan keyakinan yang menjadi pedoman hidup. Berbagai isme lahir silih berganti berusaha menguraikan tabir eksistensi manusia:

  • Kapitalisme, sebuah doktrin ekonomi-politik yang menempatkan kepemilikan individu, modal, dan akumulasi keuntungan materiil sebagai poros tertinggi peradaban.
  • Sosialisme, sistem yang merespons ketimpangan kapitalistik dengan mengagungkan pemerataan kolektif dan kontrol kepemilikan bersama.
  • Marxisme, bangunan ideologi kritis-materialistis yang memandang sejarah peradaban semata-mata sebagai dialektika materialisme dan pertarungan kelas sosial-ekonomi.
  • Liberalisme, paham antroposentris yang mendewakan kebebasan individu, otonomi mutlak hak asasi, serta desakralisasi aturan dalam ranah sosial dan demokrasi.
  • Eksistensialisme, aliran filsafat yang menuntut manusia menciptakan makna hidupnya sendiri atas dasar pilihan bebas serta tanggung jawab individual tanpa sandaran transendental.
  • Ateisme, penolakan vulgar terhadap wujud Sang Pencipta dan segala hal yang bersifat supranatural, membatasi hakikat wujud hanya pada batas-batas empiris ragawi.

Setiap ideologi di atas menyusun narasi demi menjawab kegelisahan ontologis yang inheren dalam jiwa setiap anak cucu Adam:

  • Siapakah Tuhan (pencipta dan penentu alam semesta)?
  • Apa tujuan sejati kehidupan ini?
  • Dari mana manusia berasal?
  • Ke mana muara perjalanan manusia setelah mati?
  • Bagaimana pedoman baku bagi manusia dalam menapaki hidup kesehariannya?

Di sinilah letak jurang pemisah yang mendasar. Islam hadir bukan sebagai salah satu varian dari produk peradaban manusia, melainkan sebagai nizham ilahi (tatanan ketuhanan) yang mandiri, utuh, dan paripurna. Sebagaimana ditegaskan oleh Sayyid Quthb dalam Khasha’is At-Tashawwur Al-Islami wa Muqawwimatuhu:

Tashawwur (konsepsi) Islami bukanlah hasil rekayasa akal manusia, melainkan wahyu samawi yang murni. Ia datang untuk membebaskan manusia dari perhambaan kepada akal dan hawa nafsu makhluk menuju ketundukan mutlak kepada Rabb al-‘Alamin.”

Definisi Fikrah

Fikrah adalah pola pikir, ideologi, atau keyakinan yang telah mengakar kuat dalam diri seseorang sehingga menjadi landasan dalam memahami dan menilai segala sesuatu.

Apa yang terlintas dalam benak seseorang, sudut pandang mana yang ia gunakan untuk membedah dinamika zaman, hingga corak amal perbuatan yang ia tampakkan ke permukaan, seluruhnya merupakan representasi langsung dari sumber fikrah yang dianutnya.

Imam Hasan Al-Banna menegaskan dalam Majmu’ah Ar-Rasail: “Sesungguhnya fikrah itu akan membuahkan keyakinan, keyakinan melahirkan keterikatan batin, keterikatan batin melahirkan tekad yang membara, tekad melahirkan tindakan nyata, dan tindakan melahirkan karya-karya peradaban.”

Oleh sebab itu, tarbiyah Islamiyah meletakkan pembenahan fikrah pada tangga pertama, sebab rusaknya perbuatan bermula dari cacatnya paradigma berpikir.

Baca juga: Materi Tarbiyah

Dua Sumber Fikrah: Iman dan Kekafiran

Meskipun banyak ideologi yang dikenal manusia, dalam pandangan Islam, hakikatnya sumber fikrah hanya ada dua: iman yang melahirkan bashirah dan kekafiran yang melahirkan hawa nafsu. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan polarisasi konsepsi dan ikhtiar hidup ini dalam firman-Nya:

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ (١) وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ (٢) وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ (٣) إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ (٤)

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang, dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usahamu benar-benar beraneka ragam.”(QS. Al-Lail: 1–4)

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menuturkan tafsir ayat ini: “Maksud dari {إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ} adalah bahwa amal perbuatan para hamba itu sangatlah bertolak belakang dan terpecah menjadi dua kubu yang saling berseberangan: ada pihak yang beramal demi ketaatan dan kebaikan (jalan keimanan), dan ada pihak yang beramal dalam jurang kemaksiatan dan kebinasaan (jalan hawa nafsu).”

Ketika fikrah bersumber dari kekufuran, akal manusia dipaksa tunduk melayani hawa nafsu. Akibatnya lahirlah at-tashawwur al-khathi’ (cara pandang yang sesat), lalu menjelma menjadi al-fikr al-jahili (pola pikir jahiliyah), dan berpuncak pada al-‘amal al-jahili (perilaku yang merusak martabat kemanusiaan). Sebaliknya, ketika fikrah tegak di atas fondasi iman, manusia dianugerahi bashirah yang membimbingnya mengenali hakikat-hakikat besar kehidupan secara jernih dan benar.

Enam Hakikat Besar Kehidupan

Untuk menguji kemurnian fikrah seorang mukmin, Islam membedah realitas eksistensi ke dalam enam pilar hakikat agung (Al-Haqa’iq Al-Kubra):

1. Ketuhanan (الألوهية)

Tauhid adalah episentrum dari seluruh fikrah Islam. Allah adalah satu-satunya Rabb (Pencipta, Pengatur) dan Ilah (Tuntunan, Dzat yang berhak disembah dan ditaati hukum-Nya). Islam berbeda dengan agama lain yang mempercayai trinitas, Tuhan punya anak, apalagi ateis yang tidak mempercayai adanya Tuhan.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١) اللَّهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤)

Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”  (QS. Al-Ikhlas: 1–4)

Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan dalam Al-Iman wa Al-Hayah: “Tauhid bukan sekadar kalimat lisan atau konsep teologis abstrak yang dingin. Tauhid adalah revolusi pembebasan total terhadap akal dan jiwa manusia dari segala bentuk perbudakan tirani materialisme, berhala kekuasaan, dan ilusi keduniawian.”

2. Kerasulan (الرسالة)

Akal manusia memiliki batas keterbatasan empiris; ia tidak mampu meraba perkara gaib dan membimbing manusia tanpa petunjuk wahyu. Kerasulan adalah jembatan hidayah dari langit ke bumi.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ 

Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 285)

Imam Ath-Thabari memaparkan bahwa ayat ini menjadi saksi ketundukan total (taslim) kaum mukminin terhadap kebenaran risalah para rasul tanpa membantah syariat dan khabar yang mereka bawa dari Rabb mereka.

Ini berbeda dengan agama tertentu yang memuja Nabi mereka hingga menuhankannya dan pada saat yang sama menolak Nabi lainnya. Islam mengakui seluruh Nabi, tidak membedakannya,  meskipun ada nabi yang memiliki keutamaan melebihi nabi lain. Dan yang paling utama, Islam menunjukkan bahwa pemimpin sekaligus penutup para Nabi dan Rasul adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Ibadah (العبادة)

Fikrah Islam memegang teguh keyakinan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ibadah bukanlah sekadar ritual formal di sudut mihrab atau masjid semata, melainkan esensi dan orientasi utama mengapa ruh ditiupkan ke dalam jasad.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Dalam Al-Asas fi At-Tafsir, Sa’id Hawwa menjelaskan: “Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak (lahiriah) maupun yang tersembunyi (batiniah), yang dilakukan oleh seorang hamba dengan landasan ketundukan, ketaatan, dan rasa cinta kepada Allah.”

Dengan pemahaman ini, kerja politik, dakwah sosial, mencari nafkah, pendidikan, hingga perbaikan masyarakat bertransformasi menjadi ibadah suci manakala diniatkan ikhlas dan selaras dengan syariat-Nya.

4. Alam Semesta (الكون)

Berseberangan dengan pemikiran sekuler yang memandang kosmos terjadi secara kebetulan atau memandangnya dengan nafsu eksploitatif antroposentris, Islam memandang jagat raya sebagai tanda keagungan (ayat kauniyah) yang tunduk berzikir kepada Allah.

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

Kami tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, kecuali dengan haq dan dalam waktu yang ditentukan. Namun demikian, orang-orang yang kufur berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka.  (QS. Al-Ahqaf: 3)

Alam raya diciptakan bil-haqq (dengan tujuan penuh kebenaran, hikmah, dan keadilan), bukan senda gurau sia-sia. Ia ditundukkan (taskhir) agar manusia mampu menunaikan peran khilafah fil ardh (memakmurkan bumi tanpa membuat kerusakan).

5. Manusia (الإنسان) 

Manusia bukanlah binatang yang berevolusi kebetulan sebagaimana postulat materialisme, melainkan makhluk mulia yang tersusun dari segumpal tanah bumi dan hembusan ruh langit.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (٥) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (٦)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (QS. At-Tin: 4–6)

Martabat manusia bergantung pada hubungannya dengan iman. Ketika ia menolak fitrah iman, derajatnya merosot ke tingkat paling rendah (asfala safilin). Namun ketika iman dan amal shalih menuntunnya, ia mencapai puncak kemuliaan yang melampaui para malaikat.

6. Kehidupan (الحياة)

Fikrah Islam menempatkan dunia dan akhirat dalam relasi sebab-akibat yang harmonis. Dunia adalah darul ibtila’ (negeri ujian) dan mazra’atul akhirah (ladang bercocok tanam bagi keabadian akhirat).

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui. (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Dunia tidak dicela substansinya, tetapi dunia dicela manakala ia dijadikan sebagai tujuan akhir dan puncak obsesi yang melalaikan manusia dari kehidupan sejati (al-hayawan).

Dari Tashawwur Menuju Fikrah

Ketika enam hakikat agung di atas diserap ke dalam kalbu melalui suluhan iman dan ketajaman bashirah, memancarlah apa yang diistilahkan sebagai at-tashawwur al-islami (التصور الإسلامي) atau cara pandang Islami: yakni kecakapan memandang seluruh denyut semesta, peristiwa sejarah, dan eksistensi diri melalui kacamata iman.

Dari tashawwur yang lurus inilah terbentuk kristalisasi yang matang bernama Al-Fikr Al-Islami (الفكر الإسلامي)—sebuah metodologi berpikir (fikrah) yang memiliki enam karakteristik istimewa:

  1. Rabbaniyah (ربانية – Berorientasi Ketuhanan): Sumber rujukannya adalah wahyu Allah, dan muara tujuannya adalah ridha-Nya semata.
  2. Syumuliyah (شمولية – Menyeluruh/Holistik): Meliputi seluruh dimensi hidup: aqidah, ibadah, akhlak, politik (siyasah), ekonomi (iqtishad), peradilan, keluarga, dan tata negara.
  3. Ijabiyah (إيجابية – Positif & Konstruktif): Mendorong optimisme, kerja nyata, perbaikan umat, dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.
  4. Tawazun (توازن – Seimbang): Menjaga harmoni antara hak ruhani dan kebutuhan jasad, antara urusan dunia dan keselamatan akhirat, antara hak individu dan kemaslahatan jamaah.
  5. Waqi’iyah (واقعية – Realistis): Memahami realitas alamiah dan batas kemampuan manusia tanpa menjerumuskan diri pada khayalan utopis yang mustahil.
  6. ‘Adalah (عدالة – Adil): Menempatkan segala perkara pada proporsinya, menegakkan kebenaran dan keadilan bahkan terhadap musuh sekalipun.

Sebagaimana disampaikan oleh Imam Hasan Al-Banna: “Islam adalah fikrah dan akidah, tanah air dan kebangsaan, ruh dan kekuatan, ilmu dan peradilan, materi dan akhlak… Ia mencakup seluruh manifestasi kehidupan manusia.”

Dari Fikrah Menuju Amal

Hakekat tarbiyah menolak pemikiran yang mandul. Kaidah agung menegaskan:

الْفِكْرُ أَصْلُ الْعَمَلِ

Pola pikir adalah akar tindakan.

Cara berpikir yang benar dan jernih niscaya melahirkan amal perbuatan (‘amal islami) yang kokoh, lurus, dan berdaya ubah tinggi. Seorang muslim yang jiwanya telah diterangi oleh fikrah Islam tidak akan lagi mengalami kepribadian ganda (schizophrenia moral), di mana lisannya berdzikir tetapi perilakunya menindas; atau ibadahnya rajin namun sistem muamalahnya memakan riba.

Seluruh denyut nadinya, tarikan nafasnya, dan gerak langkahnya dileburkan menjadi satu pengabdian agung, sebagaimana ditegaskan dalam deklarasi abadi seorang mukmin:

  قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

Pernyataan ini bukan sekadar doa iftitah dalam shalat, melainkan ikrar pembentukan fikrah yang mengalirkan energi perlawanan terhadap segala bentuk kebatilan, sekaligus menyalakan api kesiapan berkorban (tadhiyyah) demi tegaknya peradaban Islam. [Tarbiyah.net]