Beranda Suplemen Inspirasi Mbah Riyan Ibnu Harjo Al-Jawi: Jalan Sunyi Sang Pewaris Nabi

Mbah Riyan Ibnu Harjo Al-Jawi: Jalan Sunyi Sang Pewaris Nabi

0
mbah riyan ibnu harjo al-jawi

Ilmu itu seperti mata air. Ia tidak pernah berteriak memanggil orang-orang yang kehausan. Ia hanya mengalir. Diam. Jernih. Lalu siapa pun yang menemukannya akan meminum kesejukannya. Mata air tidak pernah meminta dipuji karena telah menghidupkan ladang-ladang. Ia hanya terus memberi kehidupan.

Begitulah para ulama sejati bekerja. Mereka lebih sibuk menjaga kejernihan air daripada memasang papan nama di tepinya.

Di sebuah kampung sederhana di Kudus, ada seorang lelaki yang kesehariannya mengangkat semen, menyusun batu bata, dan mencampur pasir. Terkadang ia kerja serabutan. Pakaiannya biasa. Penampilannya tidak istimewa. Ketika pekerjaan usai, ia kadang duduk di tepi sungai, melempar kail, menikmati sore sebagaimana warga desa lainnya. Orang-orang mengenalnya sebagai Mbah Riyan, seorang tukang bangunan.

Tetapi dunia ilmu mengenalnya dengan nama yang berbeda: Ibnu Harjo Al-Jawi.

Nama itu melintasi batas kampung, menembus ruang-ruang akademik, memasuki perpustakaan-perpustakaan Islam di berbagai negeri. Sebab di balik kesederhanaannya, ia adalah seorang ulama muhaqqiq, penjaga warisan keilmuan Islam.

Menjadi muhaqqiq bukan sekadar menulis kitab. Ia adalah pekerjaan sunyi yang menuntut ketelitian seorang ahli, kesabaran seorang pencinta, dan kejujuran seorang penjaga amanah. Manuskrip-manuskrip tua yang telah berusia ratusan tahun harus diteliti huruf demi huruf, dibandingkan naskah demi naskah, diperiksa sanad pemikirannya, lalu dikembalikan sedekat mungkin kepada bentuk yang ditulis para ulama dahulu.

Ini bentuk lain dari jihad. Bukan dengan pedang yang terhunus, tetapi dengan mata yang tak lelah membaca. Bukan dengan suara yang lantang, tetapi dengan kesabaran yang menjaga agar ilmu tidak berubah oleh kesalahan zaman.

Dari jalan sunyi itulah lahir 12 jilid kitab tahqiq dan lebih dari 100 karya ilmiah. Karya-karyanya menjadi rujukan para ulama, peneliti, dan akademisi di berbagai negara. Di antaranya Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu, Rodd Al-Hadits Al-Dla’if bi Al-Kulliyyah, Tahqiq Is’af Al-Mutholi’ karya Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyah, hingga Al-Taufiq Al-Jaliy Bain Al-Asy’ariy wa Al-Hambaliy. Semuanya menjadi mata rantai yang menyambungkan generasi hari ini dengan khazanah para ulama terdahulu.

Namun yang paling mengagumkan bukanlah banyaknya karya itu. Yang paling mengagumkan justru ketidakpeduliannya terhadap kemasyhuran.

Pagi hari ia tetap memanggul semen. Batu bata tetap ia susun satu demi satu. Sore harinya ia tetap memancing di sungai. Seolah ilmu tidak pernah mengubah caranya memandang dunia. Atau mungkin justru ilmu telah mengajarkannya bahwa semakin tinggi pohon menjulang, semakin dalam akarnya mencengkeram bumi. Bukankah padi juga demikian? Ia merunduk ketika berisi.

Beberapa hari yang lalu penghargaan datang menghampirinya. MUI Awards menganugerahkan penghormatan atas jasa-jasanya dalam menjaga khazanah keilmuan Islam. Banyak orang mungkin menganggap itulah puncak pengakuan. Tetapi beliau memilih tidak hadir.

Ia membiarkan penghargaan itu datang tanpa dirinya. Seolah ingin mengatakan bahwa nilai sebuah amal tidak bertambah karena tepuk tangan manusia, dan tidak berkurang karena sepinya panggung penghargaan.

Ada orang yang mengejar nama agar dikenang sejarah. Ada pula orang yang membangun sejarah tanpa pernah mengejar nama. Mbah Riyan tampaknya memilih jalan yang kedua.

Di medan tarbiyah, ribuan murabbi memilih jalan yang sama. Dalam kesunyian mereka terus membina. Mungkin mereka tidak bisa menulis kitab atau menjadi muhaqqiq seperti Mbah Riyan, tetapi mereka berjuang agar ilmu-ilmu yang ditulis oleh para ulama itu masuk ke dalam hati mutarabbi. Membimbing mereka mengamalkan warisan Nabi. Lalu membumikannya dengan dakwah di segala lini.

Seperti Mbah Riyan yang terus menulis tanpa mempedulikan popularitas, bahkan cenderung menjauhinya, para murabbi setia di jalan sunyi puluhan tahun lamanya. Sering kali harus mengencangkan ikat pinggang dan menyederhanakan makanan untuk keluarganya. Agar ia bisa beli bensin untuk berkendara ke halaqahnya atau silaturahim ke rumah binaannya. Agar bisa beli pulsa untuk menghubungi mereka. Memberinya hadiah atau membantu saat mutarabbinya sedang menghadapi kendala. Tanpa pujian. Tanpa tepuk tangan.

Mari sempatkan waktu sesaat. Untuk mendoakan para ulama yang tulus seperti Mbah Riyan dan para murabbi kita yang ikhlas membina, berjuang, dan berkorban. Dan semoga kita juga menjadi penerus perjuangan mereka.[]