Beranda Suplemen Muhammad Farghali: Mujahid Ikhwan Bersenjata Adzan

Muhammad Farghali: Mujahid Ikhwan Bersenjata Adzan

0
muhammad farghali

Lahir di Isma’iliyah pada tahun 1907, Muhammad Muhammad Farghali tumbuh menjadi salah satu figur pejuang karismatik dan pemberani dalam lembaran sejarah pergerakan Islam modern. Sejak masa-masa awal berdirinya Ikhwanul Muslimin, jiwanya telah terpaut erat dengan risalah dakwah.

Farghali tidak hanya memandang perjuangan sebagai wacana pemikiran, melainkan sebuah aksi nyata di tengah denyut kehidupan masyarakat. Di tanah kelahirannya, ia mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk membangun peradaban dari akar rumput. Ia mendirikan masjid sebagai pusat spiritual, membangun gedung persinggahan bagi para musafir dan tamu, serta memfasilitasi pendirian sarana khusus untuk pembinaan kaum ibu muslimat agar mereka mendapatkan hak pendidikan agama yang layak.

Menentang Tirani Kolonial

Kiprah dakwahnya yang progresif segera berbenturan langsung dengan kepentingan kolonial. Di sebuah masjid yang berada di lingkungan pabrik kapur milik pemodal Inggris di Isma’iliyah, Farghali rutin memberikan pengajian dan menyalakan kesadaran kritis umat. Kehadirannya dipandang sebagai ancaman serius oleh pihak penjajah yang mencium bahaya dari pengaruhnya.

Pimpinan pabrik berusaha menyingkirkannya dan memintanya angkat kaki dari mimbar, namun sang da’i menolak mentah-mentah. Upaya intimidasi berlanjut lewat panggilan kepolisian setempat, tetapi Farghali bergeming seraya menegaskan dengan lantang bahwa ia mengemban amanah di masjid tersebut atas tugas pergerakan dakwah, bukan atas restu kaum penjajah.

“Saya ditugaskan di masjid ini oleh Ikhwanul Muslimin bukan oleh orang Inggris,” tandasnya.

Merasa buntu, pimpinan pabrik bahkan mendatangi Imam Hasan Al-Banna dengan menawarkan suap berupa pelipatan gaji dan fasilitas mewah agar Farghali bersedia dipindahtugaskan. Tawaran pragmatis tersebut ditolak dengan tegas.

Di balik keteguhannya, Farghali adalah pribadi yang sangat bersahaja. Ia tidak pernah memedulikan kemewahan penampilan lahiriah, memiliki cinta yang mendalam kepada sesama manusia, dan selalu siap mengorbankan apa pun demi membela orang-orang lemah dari cengkeraman kezaliman. Baginya, kekuatan imperialis Inggris, kaum Zionis, beserta para sekutu bayaran mereka tidak lebih dari sekadar “budak materi” yang hakikatnya rapuh jiwanya.

Farghali meyakini sepenuhnya bahwa sistem tarbiyah yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, dan jejak generasi salaf adalah fondasi terbaik untuk membentuk pribadi muslim sejati. Sebuah generasi mujahid beriman yang sanggup melawan kezaliman di berbagai medan tanpa secuil pun rasa gentar.

Adzan sebagai Senjata

Keyakinan itu ia buktikan secara nyata di palagan perang Palestina. Dalam sebuah pertempuran sengit di waktu fajar, Farghali bersama delapan orang anggota Ikhwanul Muslimin melakukan manuver taktis yang sangat berani dengan menyusup jauh ke garis belakang pertahanan lawan.

Begitu berhasil menembus jantung wilayah kekuasaan musuh, ia menaiki dataran tinggi lalu mengumandangkan adzan Subuh dengan gema suara yang menggetarkan. Suara adzan di tengah fajar buta itu memicu kepanikan luar biasa di kubu lawan; pasukan penjaga mengira diri mereka telah dikepung oleh pasukan besar dalam serangan fajar mendadak, hingga mereka lari kocar-kacir meninggalkan pos-posnya.

Menjelang pagi, Farghali dan pasukannya berhasil merebut wilayah strategis tersebut lalu menyerahkannya kembali kepada tentara Mesir tanpa perlu melepaskan tembakan maupun menumpahkan darah.

Reputasinya sebagai komandan lapangan kian disegani di Terusan Suez dan kawasan Qanal pasca-pembatalan perjanjian damai tahun 1938. Namanya begitu ditakuti hingga petinggi militer Inggris di London mengakui munculnya kekuatan baru yang tak terduga di medan perang.

Ketika ultimatum dilayangkan penjajah kepada pasukan Mesir, Farghali tampil menantang dengan jubah kehormatan Al-Azhar lengkap dengan persenjataannya di atas mobil jip dinas menuju garis depan untuk mendesak mundur musuh. Pemerintah Inggris bahkan sampai menggelar sayembara bernilai fantastis sebesar 5.000 poundsterling bagi siapa saja yang mampu menyerahkan Farghali hidup atau mati, namun tidak ada satu pun yang bernyali menyentuhnya.

Fajar Kesyahidan

Kendati berhasil lolos dari desingan peluru musuh di medan perang, badai ujian sesungguhnya datang dari dalam negeri. Gelombang represi politik di bawah rezim Presiden Jamal Abdul Naser berujung pada penangkapan Farghali, menjebloskannya ke balik dinginnya dinding Penjara Al-Harbi bersama para da’i tulus lainnya, hingga akhirnya vonis hukuman gantung dijatuhkan pada tahun 1954.

Koran Prancis Paris Match edisi 8 Desember 1954 merekam detik-detik mencekam sekaligus heroik tersebut. Pada pukul enam pagi tanggal 7 Desember 1954, bendera hitam kematian dikibarkan di atas tiang penjara Kairo. Enam tokoh pergerakan—Mahmud Abdul Latif, Yusuf Thal’ath, Handawi Dawir, Ibrahim Ath-Thayyib, Abdul Qadir Audah, dan Muhammad Farghali—digiring keluar mengenakan seragam merah tanpa alas kaki.

Tepat pukul delapan pagi, para ulama yang divonis mati itu justru melangkah menuju tiang gantungan dengan raut wajah penuh syukur atas kehormatan syahadah yang dianugerahkan kepada mereka. Di antara derap langkah terakhirnya menuju tali gantungan, Syaikh Muhammad Farghali melantunkan kalimat agung dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan: “Saya sangat siap untuk mati. Selamat datang pertemuanku dengan Allah.” [Tarbiyah.net]