Nikmat Mata, Lebih Berat dari Ibadah Sepanjang Masa

  • Whatsapp
nikmat mata
ilustrasi (500px.com)

Sering kali kita lupa bersyukur atas nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Merasa tidak banyak nikmat-Nya karena sempit memaknai nikmat hanya berupa harta. Padahal tubuh, organ, bahkan seluruh hidup kita adalah nikmat dari-Nya.

Nikmat berupa hidup dan kesehatan amatlah mahal harganya. Ia baru terasa saat sakit mendera. Bahkan baru tersadari ketika di akhirat nanti.

Dalam Al Mustadrak ‘ala Shahihain, kitab At Taubah wal Inabah, ada sebuah riwayat yang sangat menyentuh. Menyadarkan betapa nikmat Allah sangat mahal hingga amal kita sepanjang hayat pun tak bisa menebusnya.

Ada seorang laki-laki dari kaum terdahulu yang usianya ratusan tahun. Ia gunakan siang hari untuk banyak berpuasa dan malam harinya ia memperbanyak qiyamul lail. Ketika hisab dan mizan sudah selesai, tampaklah amal kebaikannya lebih berat daripada amal buruknya. Lalu Allah berfirman kepadanya:

أدخلوا عبدي الجنة برحمتي

Wahai hamba-Ku, masuklah ke surga karena rahmat-Ku

Merasa amal kebaikannya sangat banyak, orang itu menjawab dengan nada protes:

رب بل بعملي

Tuhan, bahkan (aku masuk surga) karena amalku

Allah mengulangi firman-Nya:

أدخلوا عبدي الجنة برحمتي

Wahai hamba-Ku, masuklah ke surga karena rahmat-Ku

Orang itu kembali menjawab dengan nada protes:

يا رب بل بعملي

Wahai Tuhan, bahkan (aku masuk surga) karena amalku

Allah berfirman untuk ketiga kalinya:

أدخلوا عبدي الجنة برحمتي

Wahai hamba-Ku, masuklah ke surga karena rahmat-Ku

Lagi-lagi orang itu menjawab:

رب بل بعملي

Tuhan, bahkan (aku masuk surga) karena amalku

Maka Allah memerintahkan malaikat untuk menimbang seluruh amal kebaikan orang itu dengan satu nikmat mata. Ternyata amal kebaikan sepanjang ratusan tahun itu tidak lebih berat dari nikmat mata. Melihat itu, ia tersadar lalu mengoreksi kata-katanya.

رب برحمتك أدخلني الجنة

Tuhan, aku masuk surga karena rahmat-Mu

Nikmat mata, teramal mahal harganya

Betapa besarnya nikmat-nikmat Allah. Bahkan nikmat mata saja sebenarnya tidak tertebus oleh ibadah ratusan tahun. Akan tetapi, dengan rahmat-Nya, kita dimasukkan ke dalam surga.

Mari kita renungkan betapa mahalnya nikmat mata. Ia lebih canggih dari kamera Smartphone tercanggih sekalipun yang kita punya. Resolusi mata manusia 576MP. Mampu melihat 10 juta warna dan autofokus. Maka mata kita bisa menikmati apa pun yang ada di depannya.

Sedikit saja gangguan mata, kita merasa menderita dan harus mengeluarkan berjuta rupiah demi kesembuhannya. Misalnya saat kita mengalami kelainan refraksi -baik itu miopi, hipermetropi, maupun astigmatisme– lalu ingin melihat normal tanpa kacamata. Kita pun mengeluarkan sekitar Rp 10 juta hingga Rp 20 juta untuk operasi lasik (laser in situ keratomileusis) satu mata.

Ketika mata kita terkena katarak dan harus operasi, kita juga perlu mengeluarkan sekitar Rp 8 juta hingga Rp 15 juta untuk satu mata. Apalagi kalau sudah kena glaukoma yang hanya bisa diperlambat untuk mencegah terjadinya kebutaan dan tidak bisa diobati total. Mulai laser trabekuloplasti hingga operasi trabekulektomi, semuanya berbiaya jutaan.

Apalagi kalau sudah tidak bisa melihat entah akibat katarak, glaukoma, maupun kecelakaan. Uang milyaran pun akan dikeluarkan seandainya bisa mengembalikan penglihatan.

Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

Betapa banyak nikmat yang dilalaikan dan tidak disyukuri oleh manusia. Allah pun mengingatkan hingga 31 kali dalam Surat Ar Rahman:

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan

Termasuk nikmat mata. Kita bisa melihat indahnya dunia. Kita bisa tilawah Al-Qur’an. Bisa membaca, dan sebagainya. Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban. [Muchlisin BK/Tarbiyah]