Mentari masih menghangat sore itu, delapan tahun yang lalu. Tiga remaja mengetuk pintu. Statusnya masih pelajar berseragam putih abu-abu.
“Ustadz, kami ingin menghafal Al-Qur’an. Kami butuh ustadz yang mendampingi,” salah seorang mewakili sebagai juru bicara.
Meskipun hafalan saya tidak banyak, saya langsung mengiyakan. Bukankah kita telah diajari nahnu du’at qabla kulli syai’. Apalagi mereka adalah anak-anak muda yang kata Hasan Al-Banna merupakan rahasia kekuatan sebuah umat dan tiang penyangga kebangkitannya. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap kebangkitan umat di dunia, pemudalah yang menjadi pengusung panjinya.
Tidak menunggu lama, pekan itu juga kami agendakan. Sepekan sekali kami mengadakan pertemuan. Awalnya hanya setor hafalan, lalu ditambah agendanya dengan kajian. Jadilah halaqah pekanan.
Pekan ini, halaqah kami di rumah salah seorang dari ketiganya. Tak hanya cemilan dan minuman. Juga dihidangkan makan malam.
“Syukuran ini ya?”
“Iya, Ustadz,” jawabnya sambil tersenyum.
“Syukuran apa?” Ada yang penasaran.
“Syukuran Ustadz Sifak jadi juara MHQ Nasional.”
Kebiasaan di halaqah kami, sebelum materi dari murabbi ada kultum dari mutarabbi. Bergiliran tiap pekan. Tidak harus seperti kultum tarawih atau kuliah subuh, bisa sharing atau cerita pengalaman yang menginspirasi.
“Ketika Ustadz Muchlisin membagikan info MHQ di grup, saya diam saja. Selama ini saya memang tidak pernah ikut lomba kecuali didaftarkan. Sebelumnya ikut Lomba Imam Masjid tingkat Provinsi Jatim juga karena didaftarkan. Alhamdulillah saat itu dapat juara empat,” Ustadz Sifak memulai ceritanya.
“Lalu beliau japri meminta saya mewakili grup kita. Saya jawab, ‘Nggih Ustadz, kalau Ustadz mengajukan saya, insya Allah siap.’ Awalnya target saya seperti amanah dari Ustadz Muchlisin, mewakili Gresik ke Jatim. Itu pun sempat ragu karena saat lomba di DPD ada Ustadz Syahrullah yang sangat bagus tilawahnya. Alhamdulillah ternyata menang di DPD.”
“Sewaktu di DPW, begitu mengetahui pesertanya bagus-bagus, saya hanya berharap juara 3. Alhamdulillah ternyata juara 1. Saat babak penyisihan nasional, pesertanya lebih bagus-bagus lagi. Alhamdulillah masuk tiga besar hingga diundang ke DPP. Alhamdulillah dapat juara 2,” kami semua menyimak cerita beliau dengan antusias.
Saat mengantar Ustadz Sifak ke Bandara Juanda, saya tanya apakah pernah naik pesawat? Ternyata belum. MasyaAllah, ini berkahnya Al-Qur’an. Awalnya suka main gitar lalu Allah jadikan aktivis dakwah. Semula makmum lalu Allah jadikan imam. Semula remaja rata-rata lalu Allah jadikan guru Al-Qur’an. Allah berikan rezeki juara nasional, naik pesawat kali pertama, hingga bertemu tokoh nasional dan para ulama. Siapa yang dekat dengan Al-Qur’an pasti Allah muliakan.
Di antara para malaikat, hanya Malaikat Jibril yang bertugas menurunkan Al-Qur’an, maka jadilah ia sayyidul malaikah. Di antara para nabi dan rasul, hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerima Al-Qur’an, jadilah beliau sayyidul anbiya’ wal mursalin. Mekkah dan Madinah menjadi kota termulia karena di sanalah Al-Qur’an diturunkan. Ramadhan menjadi bulan termulia karena pada bulan itulah pertama kali Al-Qur’an. Lailatul qadar menjadi malam termulia karena pada malam itulah Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah langit dunia. Demikian pula ketika kita dekat dengan Al-Qur’an, pasti Allah muliakan.
Tarbiyah yang kita jalani pada hakikatnya mendekatkan kita dengan Al-Qur’an. Salah satu indikator keberhasilan tarbiyah kita adalah semakin dekatnya kita dengan Al-Qur’an. Semakin cinta Al-Qur’an, semakin banyak tilawahnya dan bagus bacaannya, berusaha menghafalnya, serta berkomitmen untuk mengamalkannya dan mendakwahkannya. Hingga hidup kita menjadi seperti judul tafsir: Fi Zhilalil Qur’an, di bawah naungan Al-Qur’an. [Muchlisin BK/Tarbiyah]
