Beranda Tazkiyah Bersabarlah, Allah Menyayangimu

Bersabarlah, Allah Menyayangimu

0
bersabarlah allah menyayangimu
ilustrasi

“Kenapa ya Ustadz, keluarga saya mengalami musibah beruntun dalam waktu dekat ini?” tanya seorang aktivis dakwah yang sedang terbaring di rumah sakit. Ia menceritakan beberapa kejadian yang menimpa keluarganya.

“Tidak ada musibah yang menimpa seorang mukmin melainkan Allah akan menghapus dosanya, melipatgandakan pahalanya, dan mengangkat derajatnya.”

Bagi seorang mukmin, musibah hanya ada dua. Pertama, ia adalah ujian. Kedua, ia adalah pengingat atau teguran. Ada satu lagi jenis musibah tetapi bukan untuk orang mukmin, yakni adzab. Adzab hanya Allah timpakan kepada orang yang tidak beriman kepada-Nya, orang yang mendustakan-Nya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyebut ketiganya dengan istilah imtihan, takdzkirah, dan uqubah. Ada pula istilah berbeda dari beliau dan ulama lain untuk menyebut ketiganya: ibtila’, tabshir, dan adzab.

Musibah Sebagai Ujian

Tidak seorang pun yang hidup di dunia ini melainkan pasti pernah mengalami musibah. Entah berupa sakit, kecelakaan, kehilangan, kesedihan, atau hal-hal yang tidak disukai lainnya.

Bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa, hampir semua musibah adalah ujian (ibtila’ atau imtihan). Untuk membuktikan kesungguhan iman yang ada dalam hatinya.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Demikian pula para mujahid dakwah. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga pasti akan memberikan ujian kepada mereka:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (QS. Muhammad: 31)

Jika ia sabar, Allah akan memberikan pahala yang besar, bahkan tak terbatas, kepadanya. Ujian ini juga berfungsi untuk membersihkan dosa (tamhish) dan mengangkat derajat (tarqiyatud darajat).

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat, dan dihapuskan darinya dengan sebab itu satu kesalahan (dosa). (HR. Muslim)

Baca juga: Materi Tarbiyah

Musibah Sebagai Teguran

Ada kalanya musibah yang menimpa seorang mukmin, termasuk aktivis dakwah, adalah teguran (tabshir) atau pengingat (tadzkirah) agar hamba itu kembali ke jalan yang Allah cintai.

Terkadang, seorang mukmin terpeleset dalam sebuah kesalahan atau jatuh dalam sebuah kemaksiatan. Karena sayang kepada hamba tersebut, Allah memberinya musibah agar hamba itu merenungkan kesalahannya lalu kembali ke jalan-Nya.

Atau seorang aktivis dakwah yang salah langkah. Karena cinta kepadanya, Allah menghadirkan musibah agar aktivis dakwah itu istiqomah berdakwah.

Nabi Yunus adalah contohnya. Beliau pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah (mughadhiban) karena mereka terus menerus mendustakan dakwahnya. Maka, Allah menegur Nabi Yunus hingga ia dibuang ke laut lalu ditelan ikan. Nabi Yunus mendapati musibah tiga kegelapan: gelapnya perut ikan, gelapnya lautan, gelapnya malam.

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Di tengah musibah itu, Nabi Yunus sadar bahwa ia telah keliru. Seharusnya ia lebih bersabar menghadapi kaumnya dan tidak meninggalkan mereka. Maka, pada Surah Al-Qalam ayat 48, Allah memberikan arahan kepada Rasulullah untuk bersabar, tidak seperti Nabi Yunus yang meninggalkan kaumnya.

Ala kulli hal, tabshir dan tadzkirah itu menjadi happy ending bagi Nabi Yunus. Dengan kesadaran penuh beliau berdoa dan mengakui kesalahannya, lalu Allah menerima taubatnya dan mengampuni kesalahannya. Tak hanya menyelematkannya, tetapi Allah juga memberikan kemenangan kepadanya.

Betapa bijak nasihat Ibnu Rajab: “Setiap musibah yang membuatmu semakin dekat kepada Allah, maka itu adalah rahmat. Tetapi nikmat yang membuatmu menjauh dari Allah, maka itu sejatinya adalah adzab.” Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Tarbiyah]