Beranda Kisah Abdul Malik bin Marwan: Arsitek Kebangkitan Bani Umayyah

Abdul Malik bin Marwan: Arsitek Kebangkitan Bani Umayyah

0
abdul malik bin marwan

Abdul Malik bin Marwan adalah salah satu tokoh paling menentukan dalam sejarah Dinasti Umayyah. Ia bukan sekadar khalifah yang mewarisi kekuasaan, tetapi pemimpin yang naik di tengah badai perpecahan, perang saudara, dan perebutan legitimasi. Di tangannya, kekuasaan Bani Umayyah yang sempat goyah kembali berdiri kokoh dan menjelma menjadi imperium besar.

Namun, sosok Abdul Malik tidak bisa dibaca secara hitam putih. Masa mudanya dipuji sebagai ahli ilmu, ahli ibadah, dan fakih Madinah. Tetapi setelah menjadi khalifah, ia dikenal sebagai penguasa keras yang tidak segan memakai pedang demi stabilitas negara. Karena itu, biografinya adalah kisah tentang kecerdasan, kekuasaan, reformasi besar, sekaligus kontroversi yang meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Islam.

Masa Muda Sang Fakih yang Menjadi Khalifah

Abdul Malik bin Marwan lahir pada tahun 26 H dari keluarga besar Bani Umayyah. Nasabnya bersambung kepada Quraisy melalui jalur Umayyah bin Abdu Syams. Sebelum menjadi penguasa besar Dinasti Umayyah, ia justru terkenal sebagai seorang ahli ilmu dan ahli ibadah di Madinah.

Banyak ulama generasi tabi’in memujinya pada masa mudanya. Nafi’, mantan budak Ibnu Umar, mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat seorang pemuda yang lebih dermawan, lebih fakih, lebih banyak ibadahnya, dan lebih baik bacaan Al-Qur’annya daripada Abdul Malik. Bahkan Abu Zinad memasukkannya dalam jajaran fuqaha Madinah bersama tokoh-tokoh besar seperti Sa’id bin Al-Musayyib dan Urwah bin Zubair.

Para sahabat mengakui keilmuannya. Abdullah bin Umar pernah berkata bahwa Marwan telah “melahirkan seorang bapak”, maksudnya seorang pemimpin dan tokoh besar, yaitu Abdul Malik. Dalam kesempatan lain, ketika ditanya kepada siapa umat harus bertanya setelah wafatnya para sesepuh Quraisy, Ibnu Umar menunjuk Abdul Malik sebagai salah satu rujukan.

Banyak pula tanda-tanda yang membuat orang memperkirakan masa depan besarnya. Abu Hurairah pernah melihatnya ketika masih muda dan berkata, “Dia akan merajai wilayah Arab.” Ummu Darda’ bahkan mengatakan bahwa sejak pertama kali melihatnya, ia telah membayangkan khilafah akan jatuh ke tangannya karena kecerdasan dan kematangan pribadinya.

Asy-Sya’bi, seorang ulama besar yang terkenal cerdas, mengakui bahwa ketika duduk bersama Abdul Malik, ia merasa selalu kalah dalam keluasan ilmu. Jika ia menyebut satu hadis, Abdul Malik menambahkan hadis lain. Jika ia menyebut satu syair, Abdul Malik menambahkan syair yang lain.

Semua kesaksian ini menggambarkan sosok Abdul Malik sebelum kekuasaan berada di tangannya: seorang pemuda Quraisy yang cerdas, fasih, rajin beribadah, dan memiliki masa depan yang sangat menjanjikan.

Baca juga: Muawiya bin Yazid

Jalan Panjang Menuju Kekuasaan

Abdul Malik menjadi khalifah setelah ayahnya, Marwan bin Al-Hakam, wafat. Namun pada saat itu dunia Islam sedang terpecah. Di Hijaz, Abdullah bin Zubair telah lebih dahulu dibaiat sebagai khalifah dan menguasai Makkah, Madinah, serta banyak wilayah lainnya. Karena itu, sebagian besar kaum muslimin tidak menganggap kekhalifahan Abdul Malik sah pada awal pemerintahannya.

Meski demikian, Abdul Malik memiliki kemampuan politik dan militer yang luar biasa. Sedikit demi sedikit ia memperkuat kekuasaannya di Syam dan Mesir. Setelah itu ia berhasil menguasai Irak dan wilayah-wilayah penting lainnya.

Pertarungan besar akhirnya terjadi dengan Abdullah bin Zubair. Abdul Malik menunjuk Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi sebagai panglima untuk menghadapi lawannya. Al-Hajjaj mengepung Makkah dan pada tahun 73 H Abdullah bin Zubair gugur setelah mempertahankan perjuangannya hingga akhir.

Sejak saat itulah kekuasaan Abdul Malik diakui secara luas. Persatuan politik dunia Islam kembali terwujud setelah bertahun-tahun dilanda perang saudara. Karena itu, banyak sejarawan menyebut Abdul Malik sebagai pendiri kedua Dinasti Umayyah. Jika Muawiyah adalah pendiri pertama, maka Abdul Malik adalah orang yang menyelamatkan dan menegakkan kembali bangunan negara yang hampir runtuh.

Namun kemenangan itu dibayar dengan harga yang sangat mahal. Nama Al-Hajjaj selalu menjadi bayang-bayang kelam pemerintahannya. Setelah menaklukkan Makkah, Al-Hajjaj membongkar dan membangun kembali Ka’bah sesuai bentuk yang bertahan hingga kini. Ia juga dituduh terlibat dalam berbagai tindakan keras terhadap para sahabat dan tabi’in, termasuk penghinaan terhadap Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan Sahl bin Sa’ad.

Karena itulah sosok Abdul Malik selalu menjadi tokoh yang diperdebatkan. Di satu sisi ia berhasil mempersatukan negeri-negeri Islam. Di sisi lain, kebijakan keras yang dijalankan atas namanya meninggalkan luka yang mendalam dalam ingatan banyak ulama.

Baca juga: Yazid bin Muawiyah

Membangun Imperium dan Reformasi Besar

Setelah keadaan politik stabil, Abdul Malik memusatkan perhatian pada pembangunan negara. Masa pemerintahannya menjadi salah satu periode paling penting dalam sejarah Umayyah.

Di zamannya berbagai wilayah baru ditaklukkan. Benteng-benteng di Armenia, Asia Kecil, dan Afrika Utara berhasil dibuka. Kota-kota baru dibangun, termasuk Wasith yang didirikan oleh Al-Hajjaj pada tahun 83 H. Infrastruktur negara diperkuat dan administrasi pemerintahan diperbaiki.

Salah satu jasanya yang paling terkenal adalah reformasi mata uang. Sebelumnya kaum muslimin masih banyak menggunakan koin Bizantium dan Persia. Ketika Kaisar Romawi mengancam akan mencetak koin yang menghina Nabi Muhammad ﷺ, Abdul Malik mengambil langkah berani.

Atas saran Khalid bin Yazid bin Muawiyah, ia mencetak mata uang Islam sendiri. Pada koin-koin itu dituliskan kalimat tauhid dan ayat-ayat Al-Qur’an seperti:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

serta kalimat:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ

Langkah ini menjadi tonggak penting dalam kemandirian ekonomi dan identitas politik dunia Islam.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai orang pertama yang menerjemahkan sebagian syair Persia ke dalam bahasa Arab. Di masanya administrasi pemerintahan semakin terarabkan dan birokrasi negara menjadi lebih teratur.

Walaupun terkenal keras dalam politik, Abdul Malik memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia dikenal sangat fasih berbicara, tajam dalam berargumentasi, dan mampu mengendalikan emosi. Dikisahkan bahwa dalam satu malam ia menerima empat berita buruk sekaligus, tetapi wajahnya tetap tenang dan tidak menunjukkan kegelisahan.

Bahkan ketika memutuskan perkara, ia sering membawa pedang di sisinya, simbol bahwa keadilan dan kekuasaan berjalan berdampingan dalam pandangannya.

Kejayaan, Kontroversi, dan Akhir Kehidupan

Meskipun berhasil membangun negara yang kuat, Abdul Malik tidak luput dari kritik tajam. Banyak sejarawan mencatat perubahan besar pada dirinya setelah menjadi khalifah.

Ada kisah terkenal bahwa ketika khilafah jatuh ke tangannya, ia sedang membaca mushaf Al-Qur’an. Setelah mendengar berita pengangkatannya, ia menutup mushaf itu sambil berkata, “Ini adalah pertemuan terakhir antara aku dan engkau.” Walaupun riwayat ini diperdebatkan, kisah tersebut sering digunakan untuk menggambarkan perubahan hidupnya dari seorang ahli ibadah menjadi penguasa yang tenggelam dalam urusan politik.

Sebagian ulama mengkritiknya karena mendukung Al-Hajjaj dan membiarkan berbagai tindakan keras yang dilakukan gubernur itu. Bahkan sejumlah penulis menyebut pengangkatan Al-Hajjaj sebagai salah satu kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Namun di sisi lain, Abdul Malik juga meninggalkan banyak ucapan hikmah. Ia pernah berkata bahwa manusia paling mulia adalah orang yang rendah hati ketika berada di puncak, zuhud ketika mampu, dan adil ketika memiliki kekuasaan.

Menjelang wafatnya pada tahun 86 H, ia mulai merenungi perjalanan hidupnya. Dalam salah satu riwayat ia berkata, “Demi Allah, aku berharap seandainya sejak lahir aku hanyalah seorang tukang panggul.”

Ia berwasiat kepada anak-anaknya agar bertakwa kepada Allah, menjaga persatuan, dan tidak saling berselisih. Namun dalam wasiat yang sama ia juga memerintahkan putranya, Al-Walid, untuk tetap mempertahankan Al-Hajjaj sebagai tangan kanannya.

Abdul Malik wafat pada usia sekitar 60 tahun dan meninggalkan tujuh belas anak. Masa pemerintahannya berlangsung sekitar dua puluh satu tahun, salah satu yang terpanjang dalam sejarah Umayyah.

Sejarah mengenangnya sebagai sosok yang penuh paradoks: seorang fakih yang menjadi raja, ahli ibadah yang berubah menjadi negarawan keras, pemersatu dunia Islam sekaligus penguasa yang dibayangi kontroversi. Namun tidak dapat disangkal bahwa di tangannya Dinasti Umayyah berubah dari kerajaan yang terancam runtuh menjadi imperium besar yang mendominasi dunia Islam selama beberapa generasi berikutnya. []