Muawiyah bin Yazid adalah sosok yang unik dalam sejarah Islam. Ia lahir sebagai pewaris sebuah dinasti besar, tetapi justru memilih menjauh dari kekuasaan. Masa pemerintahannya sangat singkat, namun keputusannya meninggalkan takhta meninggalkan jejak yang panjang dalam perjalanan Daulah Umayyah.
Makkah, Perang yang Terhenti
Tahun 64 Hijriah menjadi masa yang penuh gejolak. Di Makkah, pasukan Syam pimpinan Al-Hushain bin Numair masih berhadapan dengan pasukan Abdullah bin Zubair. Pertempuran berlangsung sengit dan jalan keluar belum terlihat.
Di tengah kebuntuan itu datang kabar besar dari Damaskus: Khalifah Yazid bin Muawiyah wafat.
Mendengar berita tersebut, Al-Hushain segera menghentikan operasi militernya dan menawarkan gencatan senjata. Abdullah bin Zubair menerimanya. Suara denting senjata tak lagi terdengar telinga. Para prajurit dari kedua kubu berbaur tanpa permusuhan. Pasukan Syam bahkan bebas melaksanakan umrah, thawaf mengelilingi Ka’bah, serta sai antara Shafa dan Marwah.
Di tengah thawaf itulah terjadi percakapan yang kelak dikenang sejarah. Al-Hushain mendekati Abdullah bin Zubair dan berbisik sambil memegang lengannya.
“Apakah engkau bersedia ikut bersamaku ke Syam? Aku akan berusaha agar orang-orang membaiatmu sebagai khalifah.”
Tawaran itu sangat besar. Namun Abdullah bin Zubair segera menarik tangannya. “Bagiku tidak ada pilihan selain perang. Untuk setiap korban di Hijaz harus ada sepuluh korban di Syam.”
Mendengar jawaban keras itu, Al-Hushain berkata dengan nada kecewa, “Bohong orang yang menyebutmu cendekiawan Arab. Aku berbicara dengan berbisik, tetapi engkau menjawab dengan berteriak.”
Tidak lama kemudian, Al-Hushain dan pasukannya kembali ke Syam. Banyak sejarawan menduga tawaran itu bukan sekadar basa-basi. Saat itu kondisi Syam memang sedang berada di ambang krisis.
Muawiyah bin Yazid Menjadi Khalifah
Sepeninggal Yazid bin Muawiyah, tampuk kekhalifahan berpindah kepada putranya, Muawiyah bin Yazid. Saat itu usianya baru sekitar 23 tahun.
Berbeda jauh dengan ayahnya, Muawiyah dikenal sebagai pemuda yang lebih mencintai ibadah daripada urusan politik. Hari-harinya diisi dengan tilawah, zikir, dan ibadah kepada Allah. Kekuasaan tidak pernah menjadi cita-citanya. Jabatan khalifah datang kepadanya semata-mata karena wasiat ayahnya.
Masalahnya, keadaan negara sedang tidak baik-baik saja. Di berbagai wilayah, dukungan terhadap Abdullah bin Zubair terus meluas. Banyak daerah mulai melepaskan diri dari pengaruh Bani Umayyah. Sementara itu, Muawiyah sendiri sedang menderita sakit yang cukup parah.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa sejak diangkat menjadi khalifah, ia hampir tidak pernah keluar rumah. Kondisi kesehatannya terus memburuk. Bahkan ada riwayat yang menyatakan ia belum pernah sekali pun menjadi imam shalat bagi rakyatnya.
Ia sadar bahwa dirinya bukan negarawan seperti Muawiyah bin Abi Sufyan, kakeknya. Ia juga bukan pemimpin militer yang mampu mengendalikan badai politik yang sedang menerpa Daulah Umayyah.
Di hadapannya terbentang dua pilihan: mempertahankan kekuasaan yang tidak sanggup ia jalankan, atau melepaskannya.
Melepaskan Takhta
Keputusan Muawiyah bin Yazid sangat mengejutkan. Setelah memerintah dalam waktu yang sangat singkat—ada yang menyebut sekitar empat puluh hari, ada pula yang mengatakan dua hingga tiga bulan—ia mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan khalifah.
Di hadapan para pembesar Bani Umayyah, ia menyatakan tidak sanggup memikul amanah tersebut. Para tokoh keluarga Umayyah mendesaknya untuk menunjuk pengganti. Namun Muawiyah menolak.
Dengan rendah hati ia berkata bahwa dirinya tidak seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mampu memilih pengganti sekelas Umar bin Al-Khaththab. Ia juga tidak seperti Umar yang dapat membentuk dewan syura untuk menentukan khalifah berikutnya. Karena itu, ia menyerahkan urusan tersebut kepada masyarakat dan para pemuka yang ada.
Menjelang wafatnya, pertanyaan yang sama kembali diajukan kepadanya. “Tidakkah engkau akan menentukan siapa penggantimu?”
Jawabannya sangat terkenal dalam sejarah: “Aku belum pernah merasakan manisnya kekuasaan. Mengapa aku harus menanggung pahitnya?”
Kalimat itu menggambarkan isi hatinya. Ia merasa belum menikmati sedikit pun keuntungan dari jabatan khalifah, tetapi sudah merasakan seluruh beban dan pertanggungjawabannya.
Bagi Muawiyah, kekuasaan bukan kemuliaan yang diperebutkan, melainkan amanah yang menakutkan.
Uzlah dan Akhir Hidup yang Misterius
Setelah mundur dari jabatan khalifah, Muawiyah bin Yazid memilih menjalani kehidupan yang tenang. Ia menjauh dari hiruk-pikuk politik dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah.
Dalam istilah para ulama, ia melakukan uzlah, yaitu mengasingkan diri dari berbagai urusan dunia yang dianggap dapat mengganggu hubungannya dengan Allah.
Namun hidupnya tidak berlangsung lama. Pada penghujung tahun 64 Hijriah atau 684 Masehi, ia meninggal dunia dalam usia sekitar dua puluh tiga tahun. Sebagian riwayat menyebut kematiannya terjadi karena sakit yang telah lama ia derita. Namun ada pula cerita yang berkembang bahwa ia wafat secara tidak wajar, ada orang yang meracuninya.
Yang jelas, wafatnya Muawiyah bin Yazid membuat Daulah Umayyah kehilangan figur pemersatu pada saat yang sangat genting.
Syam Terpecah, Abdullah bin Zubair Menguat
Setelah Muawiyah wafat, wilayah Syam segera terpecah menjadi beberapa kelompok. Sebagian masyarakat cenderung mendukung Abdullah bin Zubair yang berkedudukan di Makkah. Mereka melihatnya sebagai tokoh yang lebih layak memimpin umat. Apalagi wilayah Hijaz, Yaman, Irak, dan sebagian besar Persia telah memberikan baiat kepadanya. Bahkan dari Mesir datang kabar bahwa penduduk negeri itu juga menyatakan dukungan kepada Abdullah bin Zubair.
Di Syam sendiri, kelompok pendukung Abdullah dipimpin oleh Dhahhak bin Qais. Sementara di wilayah utara, terutama Hims dan Halab, dukungan dipimpin oleh Nu’man bin Basyir Al-Anshari. Gerakan ini berkembang begitu cepat hingga nyaris menguasai pusat pemerintahan Umayyah.
Melihat kondisi tersebut, para sejarawan sering bertanya-tanya: bagaimana jika dahulu Abdullah bin Zubair menerima tawaran Al-Hushain bin Numair untuk datang ke Syam?
Mungkin ia akan dibaiat sebagai khalifah oleh mayoritas penduduk. Mungkin pula sejarah Islam akan mengambil arah yang berbeda.
Namun Abdullah memilih tetap berada di Hijaz. Pengalaman pahit yang menimpa Husain bin Ali di Karbala tampaknya membuatnya enggan mempertaruhkan nasib di wilayah Syam.
Sementara itu, di Makkah ia melakukan sebuah karya besar: membangun kembali Ka’bah yang rusak akibat peperangan. Bangunan lama diruntuhkan, Hajar Aswad dipasang kembali pada tempatnya, dan Ka’bah dihiasi dengan kiswah mewah yang didatangkan dari Mesir.
Begitulah akhir kisah Muawiyah bin Yazid. Seorang khalifah muda yang memegang kekuasaan hanya sesaat, tetapi dikenang bukan karena keberhasilannya memperluas wilayah atau memenangkan perang. Ia dikenang karena keberaniannya mengakui keterbatasan diri, lalu melepaskan takhta yang begitu diinginkan banyak orang. Dalam sejarah yang penuh perebutan kekuasaan, sikap seperti ini justru menjadi sesuatu yang sangat langka. []
Sumber:
- Tarikh Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi
- Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah karya Prof. Dr. Abdussyafi Muhammad Abdul Latif
- Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastomi
