Seorang guru SD meminta murid-muridnya untuk menceritakan pengalaman liburan mereka.
Murid yang mendapat giliran maju pertama dengan ceria menceritakan liburannya ke Bali. Disusul murid kedua dan ketiga yang sama-sama liburan ke Jogja. Murid keempat lebih ceria lagi, ia menceritakan liburannya ke Singapura.
Giliran murid kelima. Ia melangkah agak gontai. Sampai di depan kelas, ia menghela napas. Wajahnya tertekuk. Kepalanya tertunduk.
“Aku tidak liburan ke mana-mana. Hanya ke rumah nenek di desa…” ucapnya dengan suara lirih dan intonasi tertahan. Sesaat kemudian dia terdiam.
Beberapa teman saling berpandangan. Ada yang tersenyum kecil. Ada pula yang berbisik pelan. Ia semakin menundukkan kepala. Baginya, liburan ke rumah nenek bukanlah sesuatu yang membanggakan untuk diceritakan. Rasanya biasa saja, bahkan sedikit memalukan jika dibandingkan dengan teman-temannya yang bepergian ke kota-kota terkenal atau ke luar negeri.
“Sudah, gitu saja, Ustadzah.”
Ustadzah tersenyum hangat, memahami perasaannya. “Terima kasih. Silakan duduk, Nak.”
Kini tibalah giliran murid keenam. Dengan langkah ringan ia maju ke depan kelas. Wajahnya berseri-seri.
“Liburanku juga ke rumah nenek di desa!” katanya penuh semangat.
Teman-temannya sedikit terkejut.
“Abi dan Ummi sengaja mengajak kami pulang ke rumah Nenek. Kata Abi, itu salah satu cara berbakti kepada orang tua. Selama ini Nenek sering rindu, jadi kami datang untuk membuat beliau bahagia.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan mata berbinar.
“Sepanjang perjalanan, aku melihat pemandangan alam yang indah. Juga mendengar cerita Abi dan Ummi. Kata Abi, liburan ini juga harus diniatkan silaturahim. Jika kita silaturahim, Allah akan memanjangkan usia kita dan meluaskan rezeki kita.”
Suasana kelas mulai hening. Semua mendengarkan.
“Di desa Nenek, aku bertemu banyak paman, bibi, dan sepupu. Dulu aku bahkan tidak hafal nama mereka. Sekarang aku jadi kenal keluarga besarku. Ternyata seru sekali punya banyak saudara.”
“Aku juga main setiap hari dengan sepupu-sepupuku. Kami mencari belalang di sawah, menangkap capung, memberi makan ayam, memancing di sungai kecil, dan bersepeda keliling desa.”
Senyumnya semakin lebar.
“Aku juga punya teman-teman baru. Tetangga Nenek baik-baik. Kami bermain petak umpet sampai menjelang magrib.”
Tangannya bergerak menggambarkan hamparan alam.
“Kalau pagi udaranya sejuk dan segar. Aku suka berjalan ke sawah bersama Kakek. Melihat matahari terbit, mendengar suara burung, dan menghirup udara yang bersih. Rasanya menyenangkan sekali. Malamnya langit penuh bintang. Di Gresik jarang sekali bisa melihat bintang sebanyak itu.”
Ia menutup ceritanya dengan kalimat sederhana.
“Jadi menurutku, liburan ke rumah nenek adalah liburan terbaikku. Aku bisa membuat nenek bahagia, mengenal keluargaku, bermain dengan sepupu, mendapat teman baru, menikmati alam, dan pulang dengan hati yang senang.”
Kelas mendadak dipenuhi tepuk tangan.
***
Liburannya sama-sama ke rumah nenek di desa, mengapa murid kelima minder saat menceritakannya sedangkan murid keenam bahagia?
Perbedaannya ada pada meaning (pemaknaan). Murid kelima hanya melihat “rumah nenek sebagai lokasi liburan” sedangkan murid keenam memaknainya sebagai kesempatan birrul walidain, silaturahim, menikmati indahnya alam, bermain dengan teman-teman baru.
Sebagai orang tua, kita perlu menanamkan meaning pada anak-anak agar mereka bahagia karena yang dilakukannya bermakna.
Martin Seligman, Bapak psikologi positif, memasukkan meaning ini sebagai salah satu pilar kebahagiaan. Orang tidak bahagia, bahkan depresi, karena merasa hidupnya tidak berguna. Merasa apa yang ia lakukan tidak bermakna.
Sebagai kader dakwah, meaning kita perlukan agar kita bahagia dan meraih banyak pahala. Mengapa para murabbi bersemangat membina setiap pekan? Karena ia tidak hanya sekadar mengajar tapi meyakini sedang melanjutkan misi para Nabi. Waktu, pulsa, dan bensin yang ia korbankan tidak seberapa dibandingkan dengan cinta Allah dan pahala jariyah dari-Nya.
Mengapa kader dakwah semangat menunaikan tugas dakwahnya? Sebab ia tidak sedang membesarkan organisasi melainkan sedang membangun peradaban dan meninggikan kalimat-Nya. Waktu, pikiran, tenaga, dan dana yang ia korbankan tidak seberapa dibandingkan dengan cinta Allah dan surga-Nya. Ia sedang berinvestasi menanam saham kebangkitan Islam. Mungkin ia sudah tiada saat Islam meraih kemenangan, tapi ia akan tersenyum di alam barzakh melihat kehidupan anak cucunya penuh berkah. [Muchlisin BK/Tarbiyah]
