Beranda Fiqih Bacaan Niat Puasa Ramadhan, yang Benar Ramadhani atau Ramadhana?

Bacaan Niat Puasa Ramadhan, yang Benar Ramadhani atau Ramadhana?

0
bacaan niat puasa ramadhan ramadhani atau ramadhana

Niat merupakan rukun pertama Puasa Ramadhan. Lalu ada pertanyaan, apakah lafadz atau bacaan niat puasa Ramadhan yang benar menggunakan “ramadhani” atau “ramadhana”?

Pengertian Niat

Secara bahasa, niat (نية) adalah keinginan dalam hati untuk melakukan suatu tindakan. Secara sederhana, niat berarti sengaja atau menyengaja.

Secara istilah, banyak ulama menjelaskan pengertian niat. Meskipun kata-katanya agak berbeda, tetapi maksudnya semisal.

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, niat adalah bermaksud untuk melakukan sesuatu dan bertekad bulat untuk mengerjakannya. Imam Al Baidhawi rahimahullah menjelaskan bahwa niat adalah dorongan hati untuk melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan. Sedangkan Prof Dr Wahbah Az Zuhaili rahimahullah menjelaskan, niat adalah tekad hati untuk melakukan amalan fardhu atau yang lain.

Niat adalah adalah hal yang sangat mendasar dalam setiap ibadah. Termasuk dalam puasa. Meskipun ada khilafiyah di antara empat madzhab apakah niat puasa Ramadhan termasuk syarat atau rukun, semua ulama sepakat, tanpa niat maka puasa Ramadhan menjadi tidak sah.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya seluruh amal tergantung pada niatnya dan sesungguhnya setiap orang akan mendapat apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Ceramah Ramadhan

Apakah Niat Harus Dilafadzkan?

Dalam Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, semua ulama sepakat bahwa tempat niat adalah hati. Niat dengan hanya mengucapkan di lisan belum dianggap cukup.

Sedangkan melafadzkan niat bukanlah suatu syarat. Artinya, tidak harus melafadzkan niat. Namun menurut jumhur ulama selain madzhab Maliki, hukumnya sunnah dalam rangka membantu hati menghadirkan niat. Sementara menurut madzhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafadzkan niat karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bagi yang melafadzkan niat, terdapat dua lafadz yang agak berbeda. Satu menggunakan “ramadhani” sehingga berbunyi:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ الشَّهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhisy syahri romadhooni hadzihis sanati lillaahi ta’aala)

Artinya: “Aku niat puasa pada hari esok untuk melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”

Sedangkan yang kedua menggunakan “ramadhana” sehingga berbunyi:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ الشَّهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

(Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhisy syahri romadhoona hadzihis sanati lillaahi ta’aala)

Artinya: “Aku niat puasa pada hari esok untuk melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”

Baca juga: Jawaban Shalat Istikharah Jodoh

Yang benar Ramadhani atau Ramadhana?

Karena ada dua lafadz niat yang beredar, muncul pertanyaan mana yang benar di antara keduanya? Ramadhani atau Ramadhana?

Lafazh niat puasa Ramadhan dibaca “Ramadhani” karena kalimat itu mudhaf dengan “hadzihis sanati”. Karena mudhaf, meskipun ghairu munsharif tetap dibaca kasrah.

Sedangkan argumen mengapa dibaca “Ramadhana” karena “Ramadhan” di situ dianggap tidak mudhaf dengan kalimat “hadzihi sanati”, karena ia ghairu munsharif (tidak menerima perubahan bentuk).

Jadi, kedua bacaan niat puasa Ramadhan baik yang menggunakan ramadhani maupun ramadhana, keduanya benar. Tidak ada yang salah. Bahkan, tanpa mengucapkan lafadz niat pun sudah sah, yang penting dalam hati sudah berniat puasa Ramadhan sebagaimana penjelasan di atas.

Pembahasan lengkap tentang kapan waktu niat, apakah harus setiap malam dan bagaimana doa sahur bisa dibaca di artikel Niat Puasa Ramadhan. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Tarbiyah]