Ahammiyatus Syahadatain (Urgensi Dua Kalimat Syahadat)

  • Whatsapp
ahammiyatus syahadatain

Syahadat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Materi tarbiyah berjudul Ahammiyatus Syahadatain ini menjelaskan urgensi atau pentingnya dua kalimat syahadat.

Dalam sehari semalam, minimal kita mengucapkan syahadat sembilan kali dalam shalat lima waktu. Ia juga merupakan rukun iman yang pertama. Apa saja urgensi syahadat? Sedikitnya ada lima.

Pintu Gerbang Islam (مدخل إلى الإسلام)

Setiap rumah pasti ada pintunya. Seseorang tidak bisa masuk ke dalam rumah, kecuali harus melewati pintu. Demikian pula seseorang yang mau masuk Islam, maka ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat.

Di masa Rasulullah, mereka yang tadinya masih jahiliyah kemudian masuk Islam dengan mengucapkan syahadat lalu menjadi orang-orang terbaik di masanya. Menjadi sahabat Nabi.

Demikian pula manusia saat ini yang tadinya belum muslim, untuk masuk ke dalam Islam mereka harus mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ada pun anak yang lahir dalam keluarga Islam, ayahnya muslim, ibunya muslim, lingkungannya muslim, ia tidak harus mengucapkan syahadat untuk masuk Islam. Karena pada hakikatnya ia telah menjadi muslim sejak lahir. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap bayi dilahirkan dalam kondisi fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR. Bukhari)

Para ulama menjelakan, fitrah dalam hadits ini artinya adalah Islam. Jadi setiap bayi yang lahir, ia dalam kondisi beragama Islam.

Dalam Surat Al A’raf ayat 172 dijelaskan, sebelum seseorang lahir ke dunia ini, sesungguhnya di alam ruh ia telah bersyahadat.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al A’raf: 172)

Intisari Ajaran Islam (خلاصة تعاليم الإسلام)

Ajaran Islam sangat luas dan meliputi segala segi kehidupan. Setiap bidang pasti ada aturannya dalam Islam. Mulai kita bangun tidur hingga tidur lagi pasti ada tuntunannya dalam Islam. Sebab Islam adalah din.

Ajaran Islam yang sangat luas itu kemudian diklasifikasikan menjadi aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah. Aqidah adalah pondasinya dan intisarinya ada dalam dua kalimat syahadat. Karenanya ia yang diajarkan oleh Rasulullah terlebih dahulu. Menjadi prioritas utama sebagaimana Allah juga mengutus para rasul sebelumnya.

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al Anbiya’: 25)

Ketika seseorang sudah beriman kepada Allah sebagaimana syahadat tauhid dan beriman kepada Rasulullah sebagaimana syahadat risalah, maka ia sudah mendapat intinya. Ketika keimanan itu kuat tertanam dalam hati, maka sisi yang lain akan menyesuaikan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Maka ibadahnya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya (shahihul ibadah). Akhlaknya menjadi akhlak yang kokoh dan mulia (matinul khuluq). Dan muamalahnya kepada sesama manusia selalu membawa kemanfaatan untuk orang lain (nafi’un li ghairihi).

Asas Perubahan (أساس الإنقلاب)

Urgensi syahadat berikutnya adalah ia merupakan asas perubahan. Dalam sejarah Islam, baik perubahan pribadi maupun perubahan peradaban dimulai dengan syahadat.

Bilal yang tadinya minder dan penakut berubah menjadi pribadi yang percaya diri dan pemberani setelah mengikrarkan syahadat, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebab dengan syahadat, ia tahu bahwa setiap manusia sama di hadapan Allah kecuali ketaqwaaan yang membedakan.

Ia tak takut lagi kepada Umayyah bin Khalaf dan orang-orang kafir Quraisy. Saat disiksa Umayyah dengan ditindih batu besar yang panas di padang pasir yang panas di bawah terik matahari, Bilal tetap kukuh dengan imannya.

“Ahad, Ahad, Ahad,” demikian jawaban Bilal. Singkat tapi menunjukkan kuatnya iman kepada Allah yang Ahad. Umayyah geram dan marah, tak bisa berbuat apa-apa lagi. Maka ketika Abu Bakar mengatakan ingin membeli Bilal, Umayyah pun menjualnya. Abu Bakar kemudian membebaskan Bilal dan sejak itu ia menjadi manusia merdeka sepenuhnya.

Kelak di Perang Badar, Bilal yang dulunya tak berani gulat dan selalu kalah, telah berubah menjadi prajurit pemberani. Ia memburu Umayyah bin Khalaf dan berhasil membunuhnya di medan perang itu.

Tak hanya Bilal, sejarah Islam dipenuhi dengan ribuan sahabat Nabi yang mengalami perubahan luar biasa setelah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mush’ab bin Umair yang tadinya anak manja berubah menjadi duta Rasulullah yang mengislamkan Madinah. Sa’ad bin Abi Waqash tumbuh menjadi komandan handal berjuluk singa yang menyembunyikan kukunya. Dan masih banyak lagi.

Secara makro, Jazirah Arab yang tadinya tidak dianggap oleh imperium Romawi dan Persia, setelah penduduknya beriman kemudian berubah menjadi peradaban Islam yang gemilang. Persia akhirnya runtuh saat perang qadisiyah, demikian pula Romawi akhirnya meninggalkan Syam.

Perubahan itu diawali dari aqidah yang benar, keimanan yang merupakan implemetasi dua kalimat syahadat.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar Ra’du: 11)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa maa bianfusihim artinya apa yang ada dalam jiwa. Yang paling utama adalah keyakinan, aqidah.

Inti Dakwah Para Rasul (حقيقة دعوة الرسل)

Tauhid bukan hanya inti dakwah Rasulullah Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam, tapi juga inti dakwah Nabi dan Rasul sebelumnya. Memang tiap Rasul membawa syariat yang tak selalu sama. Namun aqidahnya selalu sama. La ilaha illallah.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,  (QS. An Nahl: 36)

Maka jika ada agama samawi yang menyerukan menyembah selain Allah, sesungguhnya agama itu telah mengalami perubahan. Sebab Nabi Musa dakwahnya sama; sembahlah Allah dan jauhilah taghut. Dakwah Nabi Isa juga demikian; sembahlah Allah dan jauhilah taghut.

Taghut adalah segala sesuatu selain Allah yang disembah dan diibadahi. Ia bisa berupa berhala, syetan, maupun penguasa zhalim yang menuhankan dirinya seperti Fir’aun.

Baca juga: Adab Membaca Al Quran

Memiliki Keutamaan yang Agung (فضائل عظيمة)

Syahadat memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits shahih. Di antaranya, ia adalah sebaik-baik dzikir:

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Dzikir yang paling utama adalah La ilaha illallah.  (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Keutamaan syahadat yang paling besar adalah menyelamatkan orang yang mengucapkannya dari neraka dan memasukkannya ke dalam surga.

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas, semata mengharap wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian ahammiyatus syahadatain alias urgensi syahadat. Semoga membuat kita semakin kokoh meyakininya. Meneguhkan iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Tarbiyah]