Beranda Materi Tarbiyah Mengenal Al-Qur’an: Pengertian Etimologi dan Terminologi

Mengenal Al-Qur’an: Pengertian Etimologi dan Terminologi

0
mengenal alquran pengertian

Mengenal Al-Qur’an (Ta’riful Qur’an) adalah sebuah keniscayaan bagi umat Islam. Sebab Al-Qur’an adalah kitab sucinya: firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berisi petunjuk dalam kehidupan ini sekaligus referensi pertama (maraaji’ al-ulaa) dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Mengenal Al-Qur’an merupakan langkah awal untuk berinteraksi lebih jauh dengan Al-Qur’an.

Pengertian Al-Qur’an

Secara etimologi, Al-Qur’an(القرآن) berasal dari kata yang sama dengan qira’ah, yaitu akar kata (masdar) dari qara’a, qira’atan wa qur’anan. Qara’a (قرأ) memiliki arti mengumpulkan dan menghimpun. Qira’ah berarti merangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ungkapan kalimat yang teratur.

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ . فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآَنَهُ

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (QS. Al-Qiyamah : 17-18)

Sebagai masdar dari qara’a, Al-Qur’an juga bisa berarti bacaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آَيَاتُهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, (QS. Fushilat: 3)

Sedangkan secara terminologi, pengertian Al-Qur’an adalah kalamullah sekaligus mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, disampaikan kepada umatnya secara mutawatir dan membacanya bernilai ibadah.

Ada lima unsur dalam pengertian Al-Qur’an ini, yaitu:

  • Kalamullah (كلام الله)
  • Mukjizat (المعجز)
  • Diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (المنزل على قلبي محمد صلى الله عليه وسلم)
  • Diriwayatkan secara Mutawatir (المنقول بالتواتر)
  • Membacanya adalah Ibadah (المتعبد بتلاوته)

Baca juga: Maiyatullah

Kalamullah

Al-Qur’an merupakan kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui perantaraan Jibril. Meskipun kalam (perkataan) juga dimiliki oleh manusia dan jin, malaikat, bahkan hewan, tentu saja kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala berbeda dari kalam makhluk. Diturunkannya Al-Qur’an dengan bahasa yang dipergunakan manusia tidak membuat Al-Qur’an secara otomatis bukan kalam Allah, dan tidak pula mencabut sisi Ilahiah dan kesucian Al-Qur’an.

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm : 4)

Jika orang-orang musyrikin Makkah mengatakan Al-Qur’an adalah sihir dan Muhammad orang gila, itu semata-mata kebencian mereka dan ketidaksiapan mereka menghadapi kalam Allah ini. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjawab kedustaan mereka.

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ . ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ . مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ . وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ

Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. (QS. At-Takwir: 19-22)

Poin ini sekaligus menegaskan bahwa Al-Qur’an bukanlah makhluk sebagaimana pendapat kalangan muktazilah. Al-Qur’an adalah kalamullah.

Baca juga: Bahaya Syirik

Mukjizat

Mukijzat (i’jaz) berarti menetapkan kelemahan, yakni ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari qudrah (potensi, power, kemampuan). Apabila mukjizat muncul, maka nampaklah kemampuan mu’jiz (sesuatu yang melemahkan).

Dengan demikian pengertian mukjizat adalah sesuatu hal luar biasa untuk membuktikan kenabian atau kerasulan seseorang disertai dengan tantangan bagi pihak yang memusuhinya, kemudian menampakkan kelemahan mereka yang memusuhi sekaligus keunggulannya selamat dari perlawanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِىٌّ إِلاَّ أُعْطِىَ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِى أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَىَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tiada seorang Nabi pun kecuali diberi mukjizat yang dapat membuat manusia beriman kepadanya. Namun, apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang datangnya dari Allah. Karena itu aku berharap semoga kiranya aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat. (HR. Bukhari dan Ahmad)

Tantangan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang tetap ‘abadi’, bisa kita saksikan hingga kini. Sejak zaman Rasulullah sampai sekarang dan akhir zaman kelak, mukjizat ini terbukti dan tidak tertandingi. Al-Qur’an sendiri telah menantang manusia untuk menandingi Al-Qur’an dalam tiga tahapan. Pertama, menantang mereka (manusia dan juga jin) untuk membuat yang semisal dengan Al-Qur’an.

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Isra’: 88)

Ternyata mereka tidak sanggup menghadapi tantangan itu. Maka, terbuktilah keunggulan Al-Qur’an sebagai mukjizat yang tidak bisa ditandingi.

Kedua, menantang mereka dengan sepuluh surat saja dari Al-Qur’an.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 13)

Mereka juga tidak sanggup. Dan Al-Qur’an tetap tidak bisa ditandingi, sebab ia adalah mukjizat.

Ketiga, menantang mereka dengan satu surat saja dari Al-Qur’an.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (QS. Yunus: 38)

Ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat pun seperti Al-Qur’an. Tantangan ini juga diulang dalam ayat yang lain:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) -dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 23-24)

Mereka tetap tidak sanggup. Meskipun sampai hari ini dunia dipenuhi dengan para ahli bahasa dan sastrawan dan pemikir internasional, tidak ada satu orang pun yang bisa menerima tantangan Al-Qur’an untuk membuat yang serupa dengannya meskipun satu surat saja.

Berita Masa Depan

Mukjizat Al-Qur’an memang tidak tertandingi. Sampai sekarang, sampai kapan pun. Selain kemukjizatan dalam aspek bahasa seperti fasahah dan balaghah yang demikian tinggi, ada beberapa aspek lain yang menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an.

Pertama, pemberitaan mengenai hal-hal ghaib yang akan datang yang tidak mungkin diketahui kecuali dengan wahyu. Misalnya dalam firman Allah tentang berita kemenangan Romawi:

الم . غُلِبَتِ الرُّومُ . فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ . فِي بِضْعِ سِنِينَ

Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi… (QS. Ar-Rum : 1-4)

Saat menjelaskan ayat ini dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adziim, Ibnu Katsir mengetengahkan kisah taruhan antara Abu Bakar dan orang-orang musyrik. Saat itu Persia di bawah pimpinan Raja Sabur berhasil mengalahkan Romawi. Orang-orang musyrik menyukai ini karena Persia adalah penyembah berhala, sama dengan mereka. Sedangkan kaum muslimin berharap Romawi yang menang karena mereka adalah ahlu kitab, sama-sama agama samawi.

Ketika ayat itu turun, orang-orang musyrik mengatakan, “Hai Abu Bakar, sesungguhnya temanmu (Muhammad) mengatakan bahwa bangsa Romawi akan beroleh kemenangan atas Persia beberapa tahun mendatang.” Abu Bakar menjawab, “Benar.” Mereka berkata, “Maukah kamu bertaruh dengan kami?”

Maka, mereka sepakat dengan Abu Bakar menjadikan taruhannya empat ekor unta dengan jarak masa tujuh tahun. Ternyata setelah berlalu masa tujuh tahun tidak terjadi apa-apa. Orang musyrik bergembira dengan hal tersebut, dan kaum muslimin merasa berat atas kekalahannya. Ketika Abu Bakar mengadukan kepada Nabi beliau bersabda:

ما بضع سنين عندكم؟ قالو: دون العشر قال: إذهب فزايدهم وازدد سنين في الأجل

“Apakah pengertian beberapa tahun di kalangan kalian?” Mereka menjawab, “Di bawah sepuluh tahun.” Nabi SAW bersabda, “Pergilah dan tantanglah mereka untuk bertaruh lagi dan tambahlah masanya dua tahun lagi.”

Belum lagi masa dua tahun itu habis, datanglah kafilah yang membawa berita tentang kemenangan Romawi atas Persia. Maka, kaum mukmin bergembira dengan berita tersebut.

Fakta Ilmiah

Kedua, keterangan mengenai fakta-fakta ilmiah yang mendahului ilmu pengetahuan (sains), yang di kemudian hari terbukti benar adanya. Misalnya tentang perkembangan kejadian manusia dalam rahim.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ . ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ . ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آَخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al-Mu’minun : 12-14)

Pada masa ayat ini turun, ilmu pengetahuan tidak mampu berkata apa-apa tentang ayat ini. Barulah pada abad kedua puluh, saat ilmu biologi dan kedokteran semakin maju, fakta ilmiah yang didapatkan sama persis dengan ayat ini. Padahal ayat ini telah ada 12-13 abad sebelumnya.

Baca juga: Makna La Ilaha Illallah

Diturunkan kepada Rasulullah

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui perantaraan Malaikat Jibril. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ . نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ . عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ . بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. Asy-Syu’ara : 192-195)

Kata al-munazzal (yang diturunkan), berarti tidak termasuk kalam-Nya yang sudah khusus menjadi milik-Nya.

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109)

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqman: 27)

Batasan dengan kata “kepada Muhammad” menunjukkan Al-Qur’an itu tidak pernah diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya.

Baca juga: Keutamaan Sholawat

Diriwayatkan secara Mutawatir

Setiap kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima wahyu yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an, beliau membacakannya di depan para sahabat. Kemudian, para sahabat menghafalkan ayat-ayat tersebut. Beliau juga menyuruh kuttab (penulis wahyu) untuk menuliskan ayat-ayat yang baru diterimanya itu. Mereka yang terkenal adalah Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Muwaiyah bin Abu Sufyan, Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Al-Arqam bin Maslamah, Muhammad bin Maslamh, Abban bin Sa’id, Khalid bin Sa’id, Tsabit bin Qais, Hanzalah bin Rabi, Khalid bin Walid, Abdullah bin Al-Arqam, A’la bin Utbah, dan Syurahbil bin Hasanah. Tulisan para kuttab itu disimpan di rumah Rasul. Ayat-ayat yang ditulis di pelepah kurma, kulit hewan, dan tulang, serta kulit/daun kayu itu juga disebarkan kepada para sahabat.

Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, Al-Qur’an belum dibukukan dalam bentuk mushaf. Pengumpulan Al-Qur’an pertama kali dilakukan pada masa kekhalifahan Abu Bakar atas usul Umar bin Khattab. Meskipun pada mulanya ditolak Abu Bakar, akhirnya proyek besar itu dilakukan diantaranya dengan pertimbangan banyaknya para huffadz (penghafal Al-Qur’an) yang gugur di medan Jihad. Pada perang Yamamah saja jumlah penghafal yang syahid mencapai 70-an orang. Begitupun pada pertempuran di Sumur Ma’unah.

Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit untuk memimpin misi pengumpulan Al-Qur’an ini. Anggota tim-nya adalah Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib, dan Utsman bin Affan. Setelah selesai, berdasarkan hasil musyawarah tulisan Al-Qur’an itu dinamakan “Mushaf” dan disimpan di rumah Hafshah.

Pada masa khalifah Utsman bin Affan, terjadi perbedaan pendapat mengenai bacaan (qira’at) Al-Qur’an. Karena begitu luasnya wilayah Islam dengan beragam dialek-nya, qira’at Al-Qur’an semakin bervariasi. Akhirnya disepakati untuk menstandarkan kembali bacaan Al-Qur’an setelah Hudzaifah Ibnul Yaman mengusulkan kepada khalifah.

Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits untuk menyalin mushaf Abu Bakar yang ada di tangan Hafshah. Mushaf ini kemudian dikirim ke Makkah, Kuffah, Basrah, Yaman, dan Syam. Sedang salinan yang asli disimpan Utsman sendiri. Lalu semua suhuf yang ada selain itu dimusnahkan atau dibakar.

Dari mushaf standar Utsman inilah mushaf-mushaf sampai hari ini disalin dan diperbanyak. Demikianlah sejarah singkat periwayatan Al-Qur’an sampai kepada kita secara mutawatir. Selain dihafal oleh ratusan sahabat, penulisan Al-Qur’an juga terjamin keotentikannya serta dijamin pertanggungjawaban ilmiahnya. Tidak ada satu kitab suci pun dari agama selain Islam yang memiliki jaminan keotentikan seperti itu. Ini sekaligus bukti nyata dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr: 9)

Membacanya Bernilai Ibadah

Di antara keistimewaan Al-Qur’an adalah pahala besar bagi orang yang membacanya. Membaca Al-Qur’an, dengan demikian, bernilai ibadah, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Ini sekaligus membedakannya dari hadits Qudsi.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ . لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fathir : 29-30)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan pahala membaca Al-Qur’an ini dalam sabda beliau:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم َرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Siapa saja yang membaca satu huruf Kitabullah (Al-Qur’an), ia akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan itu setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatak Alif Lam Mim sebagai satu huruf. Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf. (HR. Tirmidzi)

Setelah mengenal Al-Qur’an seperti ini, semoga keimanan kita kepada Al-Qur’an semakin kuat. Tilawah Al-Qur’an kita semakin  meningkat dan interaksi kita dengan Al-Qur’an semakin berkualitas. Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Tarbiyah]