Arbain Nawawi Hadits ke-12: Manajemen Waktu, Tinggalkan yang Tak Manfaat

  • Whatsapp
arbain nawawi hadits ke-12
ilustrasi (pinterest)

Arbain Nawawi adalah kumpulan hadits pilihan yang disusun oleh Imam An Nawawi rahimahullah. Jumlahnya hanya 42 hadits, tetapi mengandung pokok-pokok ajaran Islam. Hadits-hadits ini merupakan salah satu materi tarbiyah.

Sebelumnya, kita telah membahas Arbain Nawawi Hadits ke-11. Kini kita lanjutkan dengan pembahasan Arbain Nawawi Hadits ke-12 beserta kandungan hadits dan videonya.

Read More

Arbain Nawawi Hadits ke-12 dan Artinya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Di antara tanda kesempurnaan Islam seseorang, ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi dan lainnya; hasan)

Kandungan dan Fiqih Hadits

Hadits ini termasuk jawami’ul kalim. Yakni perkataan singkat yang maknanya dalam dan kandungannya sangat luas. Banyak pelajaran penting di dalamnya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah menjelaskan hadits tersebut kepada kami dengan kalimat yang singkat dan penuh manfaat, di dalamnya terkumpul kebaikan dunia dan kebahagiaan akhirat.”

Berikut ini enam poin utama kandungan dan fiqih Arbain Nawawi hadits ke-12:

1. Membangun Masyarakat dan Peradaban Mulia

Hadits Arbain Nawawi ke-12 ini menunjukkan bahwa Islam ingin membangun masyarakat mulia. Setiap ajarannya mengarahkan masyarakat menjadi mulia. Di antara karakternya adalah fokus pada hal-hal yang bermanfaat baik untuk kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat.

Semangat Islam adalah membangun masyarakat dan peradaban mulia. Masyarakat yang produktif, yang tidak menyibukkan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Sehingga terhindar dari kerugian.

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr: 1-3)

2. Prinsip Manajemen Waktu

Hadits Arbain Nawawi ke-12 ini mengajarkan prinsip manajemen waktu. Yaitu hanya mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat. Meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebab waktu takkan bisa diulang dan tak pernah kembali.

Karenanya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tidak suka saat melihat pemuda yang melamun. Sebab melamun tidak bermanfaat baik untuk dunia maupun untuk akhirat.

3. Muslim Itu Menjaga Diri

Islam menuntun seorang muslim untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya. Apalagi kalau hal itu justru merugikan orang lain.

Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga diri agar tidak melakukan hal yang sia-sia. Apalagi kalau itu menimbulkan kemadharatan bagi orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang baginya.” (HR. Bukhari)

4. Tanda Kuat dan Lemahnya Iman

Hadits ini menunjukkan bahwa meninggalkan hal yang tidak bermanfaat merupakan tanda sempurnanya iman. Mahfum mukhalafah-nya, menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat merupakan tanda lemahnya iman.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ تُوُفِّىَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ يَعْنِى رَجُلٌ أَبْشِرْ بِالْجَنَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَوَلاَ تَدْرِى فَلَعَلَّهُ تَكَلَّمَ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ أَوْ بَخِلَ بِمَا لاَ يَنْقُصُهُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, seorang laki-laki dari kalangan sahabat nabi meminta nasehat kepada beliau, kabarkan apa yang bisa memasukkan surga. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah engkau tidak tahu, seseorang terhalang dari surga karena mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat atau bakhil terhadap apa yang tak mengurangi hartanya.” (HR. Tirmidzi)

Setiap hal yang Allah haramkan pastilah itu tidak bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Kalaupun ada manfaatnya, seperti khamr yang disebut Al Quran, hanya manfaat kecil di dunia sedangkan madharatnya jauh lebih banyak. Panjang angan-angan, ghibah, namimah dan seluruh yang Allah haramkan, pastilah merupakan perkara yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Bahkan di dunia saja sudah merugikan.

5. Jalan Keselamatan

Tidaklah sebuah perkara akan berakibat mencelakakan manusia, kecuali Allah haramkan perkara itu. Tidaklah suatu perbuatan menjerumuskan ke dalam kehancuran, kecuali Allah larang perbuatan itu.

Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat adalah jalan keselamatan. Sebab tidaklah seseorang bisa meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat kecuali ia juga pasti bisa meninggalkan yang haram. Bukankah gara-gara melakukan perkara yang tidak bermanfaat, seseorang bisa celaka di dunia? Ghibah, misalnya. Mencela orang lain, misalnya. Apalagi di akhirat.

6. Pentingnya Tazkiyatun Nafs

Hadits Arbain Nawawi ke-12 ini juga menunjukkan betapa pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs). Dan di antara tanda hati yang bersih adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.

Sebaliknya, ketika seseorang menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, itu merupakan tanda hatinya tidak bersih. Sebab ia jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca juga: Ayat Kursi

Video Hadits Arbain Nawawi ke-12

Berdurasi 40 menit lebih, video ini menjelaskan lebih detil tentang hadits ke-12 dari Arbain Nawawi ini. Termasuk contoh-contoh yang tidak semuanya tertulis dalam artikel ini.

Demikian penjelasan materi tarbiyah Arbain Nawawi hadits ke-12 disertai kandungan hadits dan video. Penjelasan tambahan mengenai sahabat yang meriwayatkan hadits ini bisa dibaca di artikel Arbain Nawawi 12. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya. Wallahu ‘alam bish shawab. [Muchlisin BK/Tarbiyah]