Beranda Fiqih Dakwah Al Qudwah Qabla Ad Dakwah

Al Qudwah Qabla Ad Dakwah

0
al qudwah qabla ad dakwah
ilustrasi (pinterest)

Dakwah memiliki kaidah-kaidah yang jika para dai berkomitmen dengannya, dakwah yang ia serukan tak hanya bergema tetapi juga banyak yang menerima. Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kaidah dakwah yang pertama adalah al qudwah qabla ad dakwah (القدوة قبل الدعوة).

Arti Al Qudwah Qabla Ad Dakwah

Al qudwah qabla ad dakwah (القدوة قبل الدعوة) artinya adalah memberi keteladanan sebelum berdakwah. Seorang dai, sebelum lantang menyeru orang lain, ia terlebih dulu harus menyeru dirinya sendiri. Sebelum nyaring mengingatkan orang lain, terlebih dahulu ia harus mengingatkan dirinya sendiri.

Ia harus menjadi teladan bagi mad’u (objek dakwah) yang ia dakwahi. Menjadi role model, sehingga orang-orang bisa melihat begitulah aplikasinya. Bahwa ia tidak sekadar bicara. Bahwa ia tidak sekadar omong kosong. Namun, ia telah menjalani apa yang ia ingin orang lain mengamalkannya.

Sebaliknya, dai yang tidak bisa menjadi teladan, orang-orang akan mementahkan dakwahnya semata-mata perbuatannya justru bertolak belakang dengan apa yang ia serukan. Manusia dengan mudahnya mengolok-olok dai yang hanya bisa bicara. Bahkan bukan hanya ia yang menjadi bahan olokan, dakwah secara umum pun akan kehilangan marwah. Tercoreng oleh orang-orang yang perbuatannya mengkhianati ucapannya.

Baca juga: Dai adalah Cermin dan Contoh Nyata Bagi Dakwahnya

Rahasia Keberhasilan Dakwah

Siapakah manusia sepanjang sejarah yang paling berhasil dalam dakwah? Kita semua pasti sepakat, beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan dakwahnya, jazirah Arab yang sebelumnya berada dalam kegelapan menjadi bintang terang kehidupan. Melalui dakwahnya, kaum yang sebelumnya berada dalam kesesatan yang nyata (fi dhalalin mubin), berubah menjadi peradaban paling mulia. Dunia yang tadinya berkubang dalam kejahiliyahan, berubah menjadi terang benderang dengan cahaya iman.

Apa rahasia keberhasilan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Pertama-tama, beliau menjadi teladan bagi dakwahnya. Beliau manusia yang paling jujur. Bahkan telah mendapat gelar al amin sebelum menjadi Rasul. Beliau manusia yang paling dermawan, tak pernah membiarkan fakir miskin kelaparan. Beliau manusia yang akhlaknya paling mulia. Kaana khuluquhul Qur’an.

Maka beliaulah sebaik-baik teladan. Uswah hasanah bagi umatnya, sejak zaman sahabat hingga tiba hari kiamat.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21)

Kita juga melihat, dakwah-dakwah yang datang kemudian, tidaklah berhasil dan menuai kesuksesan kecuali adanya keteladanan dari para dainya. Sebutlah nama ulama yang dakwahnya berpengaruh pada banyak orang –Umar bin Abdul Aziz, Abdullah bin Mubarak, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Bukhari– semuanya adalah teladan atas apa yang mereka dakwahkan. Hingga para dai di zaman modern –Hasan Al Banna, KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, Yusuf Qardhawi- semuanya membuktikan diri sebagai teladan sebelum dakwah mereka begitu berpengaruh bagi jutaan orang.

Maka, tak ada jalan lain. Jika kita ingin dakwah kita berhasil, pertama-tama kita harus menjadi teladan. Jadilah model berjalan dari apa yang kita dakwahkan.

Jangan Mengundang Murka-Nya

Dakwah pada hakikatnya adalah bahasa cinta dari-Nya. Kita tebar di muka bumi untuk mendapatkan cinta dan rahmat-Nya. Sebaliknya, tanpa dakwah kita khawatir akan datang fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja.

Namun, dakwah yang mengundang cinta-Nya bisa berbalik menjadi dakwah yang mengundang murka-Nya. Yakni, jika dakwah hanya di bibir saja. Hanya lipstik dan kosmetik. Sementara perbuatan kita justru mengingkari dakwah itu sendiri.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash Shaf: 2-3)

Karenanya, perbuatan kita harus selaras dengan kata-kata kita. Tindakan kita harus menjadi contoh ucapan kita. Kita harus menjadi teladan atas apa yang kita dakwahkan. Inilah kaidah dakwah yang pertama: Al qudwah qabla ad dakwah. [Muchlisin BK/Tarbiyah]