4 Persiapan Menyambut Ramadhan Sejak Bulan Rajab

  • Whatsapp
menyambut ramadhan sejak bulan rajab

Mungkin banyak yang belum tahu, para ulama mulai mempersiapkan diri menyambut Ramadhan sejak bulan Rajab. Hal ini terlihat jelas dari doa yang mereka panjatkan:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan”

Jadi persiapan menyambut Ramadhan itu bukan sehari dua hari sebelumnya. Namun dua bulan sebelum datangnya Ramadhan. Yakni mulai bulan Rajab. Bahkan ada ulama yang berdoa sejak enam bulan sebelum Ramadhan, minta dipertemukan dengan Ramadhan.

Lantas bagaimana persiapan menyambut Ramadhan sejak bulan Rajab? Setidaknya ada empat hal:

1. Persiapan Ruhiyah

Persiapan ruhiyah yang kita perlukan adalah dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams : 9)

Hanya dengan keikhlasan kita bisa mendapatkan keutamaan puasa. Terutama ampunan atas dosa-dosa sebelumnya.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘Alaih)

Persiapan ruhiyah juga termasuk pengkondisian ruhiyah kita sehingga bahagia menyambut datangnya bulan mulia. Termasuk berdoa minta dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan mengkondisikan jiwa betul-betul merasakan tanda-tanda kehadirannya.

2. Persiapan Fikriyah

Agar Ramadhan kita benar-benar efektif, kita perlu membekali diri dengan persiapan fikriyah tsaqafiyah. Yakni persiapan ilmu dan wawasan keislaman.

Sebelum Ramadhan tiba sebaiknya kita telah membekali diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah di bulan Ramadhan. Tentang kewajiban puasa, keutamaan puasa, fiqih puasa mulai dari niat puasa Ramadhan hingga sunnah-sunnah dan hal yang membatalkannya. Juga amaliah Ramadhan seperti tarawih, i’tikaf, zakat, dan sebagainya.

Untuk itu kita bisa mengkaji Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiq, Fiqih Puasa-nya Dr. Yusuf Qardahawi, Fiqih Islam wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili dan lain-lain.

Persiapan ilmu ini sangat penting. Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul Al-Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-Amal (Ilmu sebelum Ucapan dan Amal). Sebab tanpa ilmu, bagaimana kita bisa beramal dengan benar?

Pemahaman ilmu syar’i ini juga merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah terhadap seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan maka ia difahamkan tentang (ilmu) agama. (Muttafaq ‘Alaih)

3. Persiapan Jasadiyah

Persiapan yang juga penting adalah jasadiyah. Ramadhan membutuhkan persiapan fisik yang baik. Tanpa persiapan memadai kita bisa terkaget-kaget bahkan ibadah kita tidak bisa berjalan normal.

Ini karena Ramadhan menciptakan siklus keseharian yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.

Bagaimana tetap produktif dengan pekerjaan kita masing-masing meskipun dalam kondisi berpuasa. Kita juga akan melakukan ibadah dalam porsi yang lebih lama dari sebelumnya. Mulai shalat tarawih hingga tilawah yang lebih banyak dari biasanya.

Karenanya kita perlu mempersiapkan jasadiyah kita dengan berolah raga secara teratur, menjaga kesehatan badan, dan kebersihan lingkungan. Di sini, logika akal bertemu dengan keutamaan syar’i dalam hadits nabi:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. (HR. Muslim)

Baca juga: Doa Iftitah Pendek

4. Persiapan Maliyah

Yakni persiapan materi. Kita memerlukannya dalam menyambut bulan Ramdhan bukan untuk membeli baju baru, menyediakan kue-kue lezat untuk Idul Fitri, dan lain-lain. Apalagi di tengah pandemi, yang kemungkinan Idul Fitri kita tahun ini juga masih menjaga jarak sebagaimana Idul Fitri tahun lalu.

Kita memerlukan dana lebih untuk memperbanyak infaq, memberi ifthar (buka puasa) orang lain dan membantu orang yang membutuhkan. Tentu saja bagi yang memiliki harta yang mencapai nishab dan haul wajib mempersiapkan zakatnya.

Rasulullah mencontohkan, beliau orang paling dermawan dan lebih dermawan lagi saat berada di bulan Ramadhan. Semoga Allah memudahkan kita meneladani beliau. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Tarbiyah]