Di antara riuh rendah derap langkah para pejuang dakwah, ada sebuah sunyi yang berbicara lebih lantang daripada teriakan takbir manapun. Sunyi itu terpancar dari wajah seorang kakek bernama Warsito.
Pada usianya yang telah menyentuh angka 72, Ustadz Warsito bukan sekadar hadir; ia sedang menuliskan surat cinta paling tulus untuk dakwah ini melalui setiap butir keringat yang jatuh di medan Kembara PKS Jawa Timur, 1-3 Mei 2026.
Melihatnya di tengah barisan, kita seperti diajak melintasi lorong waktu. Ustadz Warsito adalah peserta tertua, namun barangkali, ia adalah yang paling muda semangat jiwanya. Ia tak pernah mengeluh tentang dinginnya malam Coban Pelangi, atau tingginya puncak Bromo. Kader PKS Jember ini justru berdiri tegak, membuktikan bahwa raga yang menua hanyalah cangkang, sementara jiwanya tetaplah mujahid di siang hari dan sufi di malam hari.
Ada sebuah momen yang menggetarkan hati saat upacara penutupan. Ketika DPW PKS Jawa Timur memberikan apresiasi atas ketangguhannya, sebuah pertanyaan sederhana terlontar tentang bagaimana rasanya mengikuti rangkaian Kembara yang menguras fisik itu. Dengan senyum yang tenang dan nada penuh semangat beliau menjawab: “Sangat berkesan… dan saya sama sekali tidak merasa capek.”
Kalimat ini menampar kita yang usianya jauh lebih muda. Bagaimana mungkin fisik yang telah melewati tujuh dekade itu tak merasa lelah? Jawabannya jelas: Cinta. Karena bagi seorang ikhwah yang mencintai dakwah, lelah akan kalah oleh lillah.
Semangat Ustadz Warsito membawa ingatan kita terbang jauh ke masa silam, pada sosok agung Abu Ayyub Al-Anshari. Beliau, yang rambutnya telah memutih dan fisiknya tak lagi prima, justru menjadi yang paling depan saat seruan menuju Konstantinopel bergema. Ketika anak-anaknya berkata, “Ayah, engkau telah berjuang bersama Rasulullah, engkau sudah tua dan kakimu pun cacat, biarlah kami yang berangkat,” Abu Ayyub tidak lantas surut.
Dengan suara yang bergetar namun tegas, beliau membacakan firman Allah dalam Surat At-Taubah ayat 41: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah…”
Ustadz Warsito adalah refleksi modern dari semangat Abu Ayyub tersebut. Beliau mengingatkan kita bahwa dakwah bukanlah lari cepat (sprint), melainkan sebuah maraton panjang yang garis finishnya adalah kematian. Beliau adalah pengingat bahwa “udzur” sering kali hanyalah alasan yang diciptakan oleh hati yang mulai kehilangan bara.
Yaa Allah, Sang Pemilik Hati yang Membolak-balikkan keadaan… Kami bersyukur Engkau pertemukan kami dengan teladan-teladan nyata seperti Ustadz Warsito dan para qiyadah dakwah yang usianya tak lagi muda. Maka, kami memohon kepada-Mu, karuniakanlah kesehatan dan kebugaran kepada seluruh ikhwah, agar raga ini tetap kuat memikul amanah.
Jadikanlah kami hamba-hamba yang istiqomah, yang kakinya tak goyah oleh badai, yang hatinya tak silau oleh dunia, dan yang semangatnya tak padam oleh usia. Biarkanlah kami terus melangkah di jalan dakwah ini, hingga saatnya tiba Engkau panggil kami. Husnul khatimah, tercatat sebagai syahid fi sabilillah. []
