Beranda Kisah Kisah Yusuf Qardhawi Terpesona Hasan Al-Banna

Kisah Yusuf Qardhawi Terpesona Hasan Al-Banna

0
Yusuf Qardhawi Terpesona Hasan Al-Banna

Usianya baru 14 tahun. Masih duduk di kelas satu Ibtida’iyah Al-Azhar Cabang Tontho. Setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) kalau di Indonesia.

Tapi jangan salah. Ia tidak seperti kebanyakan remaja kita yang masih kekanak-kanakan, suka main game, dan hobi rebahan. Empat tahun sebelumnya, ia telah hafal Al-Qur’an.

Dan kini, 1941, ia bersentuhan dengan pesona dai yang kemudian menginspirasinya menjadi aktivis dakwah dan kelak akhirnya menjadi ulama besar dunia. Yusuf Qardhawi, namanya. Dan dai yang pesonanya menancap di jiwa itu adalah Hasan Al-Banna.

Saat itu, Hasan Al-Banna sedang menyampaikan ceramah di Tontho tentang hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Al Qardhawi sering mendengar ceramah tentang hijrah sampai hafal kisahnya. Namun, paparan Hasan Al-Banna membawa pengaruh berbeda.

Hasan Al-Banna menjelaskan bahwa hijrah adalah pembatas antara dua periode. Yakni periode pembinaan (tarbiyah) pribadi di Mekkah dan pendirian negara di Madinah. Mursyid ‘am Ikhwanul Muslimin itu juga mengajak kaum muslimin mengambil ibrah dari peringatan hijrah Nabi untuk beramal membentuk pribadi muslim hingga memperbaiki masyarakat dan negara.

“Kata-kata Hasan Al-Banna telah membekas dalam akal dan hati saya sehingga saya menunggu-nunggu kedatangan beliau di kota Tontho berikutnya…” tulis Yusuf Qardhawi saat mengenang peristiwa tersebut dalam bukunya, Nahwa Wahdah Fikriyah lil ‘Amilin lil Islam.

Bulan demi bulan berlalu. Hingga tiba tahun berikutnya. Tak juga Hasan Al-Banna kembali berkunjung ke kotanya.

Ketika Yusuf Qardhawi duduk di kelas tiga, ia mendapat undangan dari Divisi Pelajar Ikhwanul Muslimin Cabang Tontho. Pada acara itu, ia membaca puisi islami. Itulah kali pertama Al Qardhawi berdiri di mimbar Ikhwan Cabang Tontho. Dan sejak hari itu, ia menjadi anggota Ikhwanul Muslimin.

Kerinduannya untuk berjumpa Hasan Al-Banna kian menyeruak ketika tiga tahun berikutnya ia diterima di Universitas Al-Azhar Kairo. Ia berharap, satu kota dengan Hasan Al-Banna bisa sering bertemu dengannya. Namun, ternyata hanya bisa beberapa kali berjumpa. Yang paling berkesan, ia tulis dalam judul Sehari Semalam Bersama Hasan Al-Banna dalam bukunya, Mudzakkirat Al-Qaradhawi.

Tak lama kemudian, pada 13 Februari 1949, Yusuf Qardhawi dikejutkan dengan berita terbunuhnya Hasan Al-Banna. Ia kehilangan sosok hidup yang menginspirasinya. Namun, pesona dakwah yang telah menancap di jiwa tidak pudar karena kematiannya. Justru menggerakkannya untuk mempelajari pemikiran Hasan Al-Banna dari murid, sahabat, dan tulisan-tulisannya. Lalu, menjadi penerus dakwahnya. [Muchlisin BK/Tarbiyah]