Yazid bin Muawiyah adalah salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Islam. Namanya hampir selalu muncul dalam pembahasan tentang tragedi Karbala, Peristiwa Harrah, dan berbagai pergolakan politik yang mengguncang umat Islam pada abad pertama Hijriah. Sebagian orang memandangnya sebagai khalifah dari Dinasti Umayyah, sementara banyak ulama dan sejarawan menempatkannya sebagai sosok yang pemerintahannya meninggalkan luka mendalam bagi kaum muslimin.
Ia lahir sekitar tahun 25–26 Hijriah sebagai putra Muawiyah bin Abi Sufyan. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan kekuasaan yang kelak membawanya menjadi pewaris tahta. Namun jalan menuju kekhalifahan yang ia tempuh berbeda dengan para khalifah sebelumnya. Jika Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dipilih melalui musyawarah dan baiat umat, maka Yazid menjadi simbol awal perubahan sistem kepemimpinan menjadi model turun-temurun dalam keluarga penguasa.
Awal Mula Perubahan Sistem Khilafah
Di balik pengangkatan Yazid sebagai penerus Muawiyah terdapat kisah yang banyak disebut oleh para sejarawan. Hasan Al-Bashri menilai bahwa salah satu titik penting yang mengubah arah sejarah adalah ketika Al-Mughirah bin Syu’bah berhasil meyakinkan Muawiyah agar menyiapkan baiat bagi putranya. Dengan langkah itu, jalan menuju kekuasaan Yazid terbuka lebar.
Banyak tokoh saat itu tidak sepakat dengan keputusan tersebut. Mereka khawatir sistem musyawarah yang selama ini menjadi ciri pemilihan khalifah akan berakhir. Bahkan Hasan Al-Bashri berpendapat bahwa andai langkah tersebut tidak terjadi, mungkin urusan khilafah akan terus ditentukan melalui syura dalam waktu yang sangat panjang.
Meski demikian, Muawiyah tetap melanjutkan rencananya. Menjelang wafatnya, ia berusaha memastikan seluruh wilayah Islam membaiat Yazid sebagai penggantinya. Ketika Muawiyah meninggal dunia, penduduk Syam segera memberikan baiat kepada Yazid. Namun tidak semua tokoh besar umat menerima keputusan itu.
Penolakan dari Tokoh-Tokoh Besar
Di Madinah, dua nama besar menolak membaiat Yazid: Al-Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair. Keduanya kemudian meninggalkan Madinah menuju Makkah. Bagi banyak kaum muslimin, penolakan ini bukan sekadar persoalan politik, tetapi juga menyangkut prinsip tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya dipilih.
Tidak lama kemudian, surat-surat dari Kufah datang bertubi-tubi kepada Al-Husein. Penduduk Kufah mengaku siap mendukung cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu jika ia datang ke Irak. Berbagai sahabat senior berusaha mencegahnya. Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah, Abu Sa’id Al-Khudri, dan sejumlah tokoh lainnya menasihatinya agar tidak berangkat. Mereka mengenal watak penduduk Kufah yang pernah mengecewakan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, bahkan saudaranya, Hasan bin Ali.
Namun Al-Husein telah mengambil keputusan. Dengan membawa keluarga dan anak-anaknya, ia berangkat menuju Irak pada 10 Dzulhijjah. Perjalanan itu kelak menjadi salah satu kisah paling menyedihkan dalam sejarah Islam.
Karbala: Tragedi yang Mengguncang Umat
Ketika mendengar keberangkatan Al-Husein, Yazid mengirim instruksi kepada gubernurnya di Irak, Ubaidillah bin Ziyad. Pasukan besar kemudian dikerahkan untuk menghadang rombongan Al-Husein. Di padang Karbala, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu mencoba menghindari pertumpahan darah. Ia menawarkan beberapa pilihan: kembali ke Makkah atau menemui Yazid secara langsung. Namun tawaran tersebut ditolak.
Akhirnya pertempuran yang tidak seimbang itu terjadi. Al-Husein dan para pengikutnya dibantai. Bersama beliau gugur pula puluhan anggota keluarganya. Kepalanya dipenggal dan dibawa ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad. Para penulis sejarah menggambarkan peristiwa ini sebagai musibah besar yang mengguncang hati kaum muslimin di seluruh penjuru negeri.
Berbagai riwayat menyebutkan munculnya tanda-tanda yang dianggap sebagai kesedihan alam atas terbunuhnya Al-Husein. Langit memerah, masyarakat diliputi duka mendalam, dan kisah-kisah haru menyebar ke seluruh dunia Islam. Dalam sejumlah riwayat juga disebutkan mimpi Ummu Salamah dan Abdullah bin Abbas yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tampak bersedih karena kematian cucunya. Walaupun kualitas riwayat-riwayat tersebut berbeda-beda, semuanya menunjukkan betapa besar luka yang dirasakan umat saat itu.
Bahkan setelah kepala Al-Husein dikirim kepada Yazid, disebutkan bahwa ia akhirnya menyesali peristiwa tersebut karena kemarahan kaum muslimin semakin membesar. Namun penyesalan itu tidak mampu menghapus tragedi yang telah terjadi.
Peristiwa Harrah dan Kemarahan Penduduk Madinah
Kemarahan terhadap Yazid tidak berhenti setelah Karbala. Pada tahun 63 Hijriah, penduduk Madinah memutuskan melepaskan baiat mereka kepadanya. Mereka menilai berbagai perilaku Yazid tidak layak bagi seorang pemimpin umat.
Sebagai tanggapan, Yazid mengirim pasukan besar ke Madinah. Terjadilah Peristiwa Harrah, salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah kota suci tersebut. Banyak sahabat dan tabi’in terbunuh, kota Madinah porak-poranda, dan berbagai pelanggaran besar terjadi terhadap penduduknya. Al-Hasan Al-Bashri menggambarkan peristiwa itu dengan penuh kesedihan, seakan hampir tidak ada yang selamat dari bencana tersebut.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
“Barangsiapa yang menakut-nakuti penduduk Madinah, maka Allah akan menanamkan rasa takut kepadanya dan Allah, para malaikat, serta seluruh manusia akan melaknatnya.”
Banyak ulama kemudian menjadikan Peristiwa Harrah sebagai salah satu alasan kuat untuk mengecam pemerintahan Yazid. Abdullah bin Hanzhalah bahkan menyatakan bahwa penduduk Madinah memberontak karena khawatir azab Allah turun akibat berbagai kemaksiatan yang dilakukan penguasa tersebut.
Pengepungan Makkah dan Akhir Hidup Yazid
Setelah menundukkan Madinah, pasukan Yazid bergerak menuju Makkah untuk menghadapi Abdullah bin Zubair. Kota suci itu kemudian dikepung. Manjaniq digunakan untuk menyerang wilayah sekitar Ka’bah hingga sebagian bangunan dan penutup Ka’bah terbakar. Peristiwa ini semakin memperburuk citra Yazid di mata umat Islam.
Namun sejarah bergerak cepat. Di tengah berlangsungnya konflik tersebut, Yazid meninggal dunia pada Rabiul Awal tahun 64 Hijriah. Kabar kematiannya membuat pasukan Syam kehilangan arah dan akhirnya kembali ke negeri mereka. Dengan demikian berakhirlah masa pemerintahan Yazid yang hanya berlangsung sekitar tiga tahun, tetapi meninggalkan jejak yang sangat panjang dalam sejarah umat Islam.
Warisan yang Penuh Kontroversial
Setelah wafatnya Yazid, perdebatan tentang dirinya tidak pernah benar-benar berakhir. Sebagian riwayat memuat pujian, sementara banyak ulama besar justru mengkritiknya dengan keras. Bahkan Umar bin Abdul Aziz marah ketika seseorang menyebut Yazid dengan gelar “Amirul Mukminin”.
Yang jelas, nama Yazid selalu terkait dengan tiga peristiwa besar: tragedi Karbala, Peristiwa Harrah, dan pengepungan Makkah. Tiga kejadian itu cukup untuk menjadikan masa pemerintahannya dikenang sebagai salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah Islam. Ia mewarisi sebuah kerajaan yang kuat dari ayahnya, tetapi meninggalkan dunia dalam keadaan umat terpecah, luka sejarah menganga, dan fitnah politik yang dampaknya terasa hingga berabad-abad kemudian.
Begitulah kisah Yazid bin Muawiyah—seorang penguasa yang namanya tidak sekadar tercatat dalam buku sejarah, melainkan juga dalam ingatan kolektif umat sebagai simbol masa ketika kekuasaan dan tragedi berjalan berdampingan. []
*Disarikan dari Tarikh Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi
