Mengapa Hasan Al Banna menempatkan Al-Fahm (pemahaman yang benar) sebagai rukun pertama dalam arkanul baiat? Seperti kita tahu, arkanul baiat ada 10, yaitu:
- Al-Fahm
- Al-Ikhlas
- Al-Amal
- Al-Jihad
- At-Tadhiyah
- Ath-Tha’ah
- Ats-Tsabat
- At-Tajarrud
- Al-Ukhuwah
- Ats-Tsiqah
Hasan Al Banna menempatkan Al-Fahm sebelum rukun-rukun lain karena beliau memahami bahwa fikrah (cara berpikir) harus mendahului harakah (gerakan), dan ilmu harus mendahului amal. Amal yang benar tidak lahir dari semangat semata, tetapi dari pemahaman yang lurus.
Dalam pandangan Islam, persepsi yang benar akan melahirkan keyakinan yang benar, lalu menghasilkan tindakan yang benar. Karena itu, perubahan tidak dimulai dari aktivitas, tetapi dari pembentukan cara pandang. Ini pula yang para ulama tekankan.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa jalan agama dan akhlak para nabi dibangun di atas tiga unsur yang saling terkait: ilmu → keadaan jiwa (perilaku) → amal. Ilmu melahirkan sikap, dan sikap mendorong tindakan. Bahkan para ahli psikologi pun menggambarkan urutan serupa: manusia mengenal terlebih dahulu, lalu terpengaruh, kemudian bertindak.
Prinsip ini memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
“Dan agar orang-orang yang diberi ilmu mengetahui bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya.” (QS. Al-Hajj: 54)
Urutan ayat ini menunjukkan tahapan yang jelas: ilmu → iman → ketundukan. Orang yang mengetahui kebenaran akan beriman, dan keimanan yang benar akan melahirkan kepatuhan.
Demikian pula firman Allah:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, dan mohonlah ampun atas dosamu…” (QS. Muhammad: 19)
Perintah “ketahuilah” didahulukan sebelum perintah beramal berupa istighfar. Dari ayat ini, Imam Bukhari membuat bab terkenal dalam kitabnya: “Al-llmu qablal qaul wal amal, Ilmu sebelum ucapan dan amal.”
Para ulama menjelaskan bahwa ilmu menjadi syarat bagi sah dan lurusnya ucapan serta amal. Ilmu meluruskan niat, dan niat meluruskan amal.
Bahaya terbesar manusia adalah ketika ia kehilangan standar ilmu sehingga terbalik dalam menilai: yang batil dianggap benar, yang makruf dianggap mungkar, sunnah dianggap bid’ah, dan keburukan disangka kebaikan.
Allah memperingatkan:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ… وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang yang paling merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103–104)
Dan firman-Nya:
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا
“Apakah sama orang yang dihiasi keburukan amalnya lalu ia memandangnya baik?” (QS. Fathir: 8)
Karena itu terdapat doa yang masyhur:
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tampakkan kepada kami yang haq sebagai haq dan berilah kemampuan mengikutinya; tampakkan kepada kami yang batil sebagai batil dan berilah kemampuan menjauhinya.”
Para ulama salaf juga menekankan hal ini. Umar bin Abdul Aziz berkata:
مَنْ عَمِلَ بِغَيْرِ عِلْمٍ، كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Siapa yang beramal tanpa ilmu, kerusakan yang ditimbulkannya lebih banyak daripada maslahatnya.”
Hasan Al-Bashri berkata:
الْعَامِلُ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَالسَّائِرِ عَلَى غَيْرِ طَرِيقٍ
“Orang yang beramal tanpa ilmu seperti berjalan tanpa jalan dan tujuan.”
Beliau mengingatkan bahwa semangat ibadah tanpa ilmu dapat menyesatkan, sebagaimana terjadi pada kaum Khawarij: rajin shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an, tetapi salah memahami agama hingga menghalalkan darah kaum Muslimin.
Karena itu Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berkata:
الْعِلْمُ إِمَامُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu.”
Ilmu dibutuhkan karena ia menjadi alat untuk:
- Membedakan antara yang haq dan batil.
- Menentukan yang halal dan haram, sunnah dan bid’ah.
- Menempatkan prioritas amal dan tingkat kewajiban secara benar.
- Menilai manusia, sikap, dan peristiwa secara adil, jauh dari hawa nafsu dan sikap berlebihan.

Inilah sebabnya Hasan Al Banna mendahulukan Al-Fahm: sebab pemahaman yang benar adalah fondasi seluruh gerakan, ibadah, dan perbaikan. Wallahu a’lam bish shawab. []
*Disarikan dari Nahwa Wahdah Fikriyah lil ‘Amilin lil Islam karya Syekh Dr. Yusuf Qardhawi