Menyeimbangkan Khauf dan Raja’

  • Whatsapp
menyeimbangkan khauf dan raja
ilustrasi (pinterest)

Khauf dan raja’ harus ada pada diri seorang mukmin. Bahkan ibadah tidak akan sempurna kecuali dengan adanya khauf dan raja’. Dan keduanya harus diseimbangkan.

Jika hanya ada khauf, seorang hamba bisa putus asa saat terjatuh dalam dosa. Sebaliknya, jika hanya ada raja’, seorang hamba bisa meremehkan ketika ia berbuat dosa. Maka keduanya harus ada dan diseimbangkan.

لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ

Jika saja seorang mukmin mengetahui siksaan Allah, tidak ada seorang pun yang berambisi kepada surga-Nya. Dan jika saja orang kafir tahu rahmat Allah, tidak seorang pun (dari mereka) yang putus asa terhadap surga-Nya. (HR. Muslim)

Imam Ghazali membuat perumpaan tepat saat ditanya mana yang lebih dibutuhkan antara raja’ dan khauf. Ia pun menjawab dengan balik bertanya, “Mana yang lebih dibutuhkan manusia antara air dan makanan?”

Ya, keduanya dibutuhkan. Saat lapar, orang memerlukan makanan. Dan saat haus ia memerlukan air untuk minum. Keduanya sangat dibutuhkan.

Dalam kondisi tertentu, kadang khauf dan raja’ ada yang lebih dominan dibutuhkan. Syaikh Musthafa Sa’id Al Khin dalam Nuzhatul Muttaqin mencontohkan, saat sakit, seseorang hanya bisa berharap. Raja’ lebih dominan. Imam Ghazali mencontohkan saat lain yakni menjelang ajal.

“Jika ajal sudah dekat, yang lebih baik bagi manusia adalah raja’. Sebab khauf itu ibarat cambuk yang membangkitkan amal. Padahal ia sudah tidak bisa beramal lagi,” kata Imam Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin.

Baca juga: Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

“Orang yang takut menjelang ajal itu tidak ada yang diperbuatnya kecuali memotong gantungan-gantungan hati. Harapan dalam keadaan seperti ini dapat menguatkan hati dan membuatnya mencintai Allah. Tidak selayaknya seseorang meninggalkan dunia melainkan dalam keadaan mencintai Allah, merasa senang bersua dengan-Nya dan berbaik sangka kepada-Nya.”

Semoga Allah menganugerahkan khauf dan raja’ kepada kita. Sehingga kita semakin takut kepada Allah sekaligus semakin berharap kepada-Nya. Pembahasan lengkap mulai dari pengertian, keutamaan hingga cara menumbuhkan dan menguatkan ada di artikel Khauf dan Raja’. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Tarbiyah]