Mengapa Banyak Orang yang Mati Melotot? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

  • Whatsapp
mati melotot
ilustrasi (pinterest)

Terkadang kita mendapati orang meninggal dengan melotot. Dan ternyata cukup banyak orang yang mati melotot seperti itu.

Mengapa banyak orang yang melotot saat sakaratul maut? Ustadz Abdul Somad menjelaskan, kematian adalah berpisahnya ruh dari jasad. Ketika seseorang dicabut nyawanya oleh Malaikat Maut, maka ruhnya akan keluar lewat atas (kepala), sehingga ia kaget melihat keluarnya ruh tersebut. Maka matanya pun melotot.

“Ruh keluar berawal dari ujung kaki. Minal asfal. Asfal artinya bawah. Mengalir dia ke atas, lalu dia pun keluar dari atas, maka mata pun melihat. Makanya orang yang meninggal itu matanya melotot. Apa yang dia lihat? Ruhnya keluar,” terang doktor alumni Oumdurman Islamic University, Sudan ini.

Dahsyatnya Sakaratul Maut

Sakaratul maut ini sangat berat, apalagi bagi orang-orang zalim dan kufur kepada Allah.

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat mumukul dengan tangannya, (Sambil berkata): “Keluarkan nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya” (QS. Al An’am: 93)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

Adapun yang paling ringan, yakni bagi orang-orang mukmin, Rasulullah menggambarkan:

“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR. Bukhari)

Baca juga: Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

Persiapan Menghadapi Mati

Dahsyatnya sakaratul maut adalah gerbang awal dari fase kehidupan berikutnya. Setelah seseorang meninggal, baik ia mati melotot atau tidak, ia akan masuk alam barzakh. Pembalasan atas amal-amal sewaktu hidup di dunia mulai dirasakan di alam barzakh.

Orang yang beriman dan amal kebaikannya banyak, maka ia akan mendapatkan nikmat kubur. Kuburnya menjadi pintu surga. Maka ia bahagia di alam barzakh meskipun masanya panjang hingga ribuan tahun.

Sebaliknya, orang yang tidak beriman dan orang-orang yang durhaka, ia akan mengalami siksa kubur. Kuburnya menjadi pintu neraka. Maka ia sangat menderita dan merasakan waktunya sangat lama. Berharap kiamat segera tiba. Padahal setelah kiamat, balasannya lebih besar dari di alam barzakh.

Setelah kiamat, orang yang beriman akan masuk surga dan orang yang kafir akan masuk neraka. Abadi selama-lamanya. Adapun orang yang ada sedikit keimanan tapi banyak melakukan dosa dan kemaksiatan, ia akan dimasukkan ke neraka terlebih dahulu sebelum nantinya masuk surga.

Maka yang lebih penting dari sekedar bertanya apakah nanti mati melotot atau tidak, adalah bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi itu semua. Mulai dari sakaratul maut, alam barzakh, hari kebangkitan, hari hisab, hingga akhir kembali surga atau neraka. Yang paling penting adalah mempersiapkan bekal menghadapi itu semua.

Karenanya ketika menjelaskan siapa orang yang paling cerdas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah; hasan)

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang cerdas ini. Aamiin.[Muchlisin BK/Tarbiyah.net]