Beranda Kisah Belajar Memaafkan dari Buya Hamka

Belajar Memaafkan dari Buya Hamka

0
Buya Hamka memaafkan
ilustrasi (pinterest)

“Buya akan dibebaskan,” kata Jenderal Sucipto Yudodiharjo sembari menjelaskan penyelidikan terbaru kepolisian membuktikan bahwa beliau tidak bersalah.

“Bersama ini saya juga minta maaf atas tindakan pendahulu saya,” lanjut Menteri Angkatan Kepolisian itu.

Buya Hamka tersenyum. “Justru saya yang berterima kasih kepada yang menahan saya. Karena selama dua tahun ditahan, saya bisa menyelesaikan tafsir yang tidak selesai selama 20 tahun di luar tahanan.”

Dipenjara dengan tuduhan dibuat-buat memang berat. Apalagi bermacam bentuk siksaan pernah ia rasakan. Karena kesehatannya, ia kemudian dipindahkan jadi tahanan di Rumah Sakit Persahabatan. Namun, ia memaafkan institusi kepolisian. Apalagi pimpinannya sudah beda orang. Pasca G30S/PKI situasinya berbalik. Mereka yang dipenjara karena mengkritik nasakom kini dibebaskan. Sebaliknya, para pendukung komunis kini menjadi buronan.

***

Ahad, 21 Juni 1970.

Mayjen Soeryo menemui Buya Hamka. “Ada pesan dari Bung Karno. Bila beliau wafat, beliau minta Buya yang jadi imam shalat jenazahnya.”

Buya Hamka tidak menyangka teman lama yang membiarkannya dipenjara justru memiliki permintaan khusus kepada dirinya. Belum selesai keheranan Buya Hamka sebab yang membawa pesan adalah ajudan Presiden Soeharto, tentara itu melanjutkan kata-katanya.

“Bung Karno baru saja wafat di RSPAD pagi ini. Sudilah Buya mengabulkan permintaan terakhir beliau.”

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” refleks lisan Buya Hamka bergumam. Tak terasa matanya berkaca-kaca. Meskipun Bung Karno telah membubarkan Partai Masyumi, mendukung komunisme, dan berseberangan dengan dirinya, Buya Hamka memenuhi permintaan itu.

“Aku memaafkanmu, saudaraku,” katanya lirih di depan jenazah Bung Karno sebelum memimpin sholat jenazah.

***

Sekitar sembilan tahun kemudian, seorang gadis menemui Buya Hamka. Astuti, namanya.

“Saya anak Pramoedya Ananta Toer,” Buya Hamka terkejut saat Astuti memperkenalkan dirinya. Pram adalah sastrawan tokoh Lekra yang habis-habisan menyerang dirinya. Lekra yang merupakan akronim dari Lembaga Kebudayaan Rakyat adalah organisasi kebudayaan sayap PKI.

Buya Hamka lebih terkejut lagi saat Astuti mengatakan dirinya datang karena disuruh sang ayah. “Ayah tidak mau saya nikah beda agama. Beliau minta agar Buya membimbing calon suami saya masuk Islam.”

Mendengar maksud itu, Buya Hamka segera menyambutnya. Ketika Rusydi dengan kesal mengingatkan apa yang telah dilakukan Pram, Buya Hamka tersenyum kepada anaknya itu. “Saya sudah memaafkan Pram.”

***

Memaafkan memang tidak mudah. Namun, memaafkan membuat kita bahagia dan menjadi pribadi yang mulia. Sebaliknya, mendendam hanya membuat kita menderita. Alih-alih menghukum orang lain dengan tidak mau memaafkan, kita justru menghukum diri kita sendiri dengan sakitnya perasaan.

Apalagi jika orang itu adalah orang-orang terdekat kita. Pasangan hidup, keluarga, teman, tetangga. Ketika kita tidak bisa memaafkan, kita hanya mengabadikan rasa sakit setiap kali berinteraksi atau bertatap muka. Memaafkan adalah jalan penyembuhan bagi luka jiwa. Lebih dari itu, memaafkan adalah jalan menuju surga.

Para ulama seperti Buya Hamka telah memberikan keteladanan. Bahkan kepada orang yang memusuhi dan menyakitinya pun beliau bisa memaafkan. Dan keteladanan itu bersumber dari teladan terbaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang di bulan ini beliau dilahirkan. [Muchlisin BK/Tarbiyah]