Beranda Materi Tarbiyah Surat Asy-Syams Ayat 1-10

Surat Asy-Syams Ayat 1-10

0
Rasmul bayan surat asy-syams ayat 1-10

Materi tarbiyah terdiri dari beberapa majal (bidang studi). Salah satunya adalah Al-Qur’an. Salah satu topik/judul (‘unwan) dalam majal Al-Qur’an adalah Surat Asy-Syams Ayat 1-10.

Berikut ini pembahasan Surat Asy-Syams ayat 1-10 mulai dari pendahuluan (muqaddimah), pelajaran-pelajaran penting (ad-durus al-mustafadah), hingga implementasi dalam kehidupan (ath-thatbiiqaatu fi al-hayah).

Pendahuluan (Muqaddimah)

Surat Asy-Syams merupakan surat ke-91 dalam Al-Qur’an dan terdiri dari 15 ayat. Surat ini tergolong Makkiyah, yakni turun sebelum hijrah ke Madinah.

Muhammad Abid al-Jabiri, dari urutan turunnya (tartib nuzuli), Surat Asy-Syams merupakan surat ke-24. Yakni sesudah Surat ‘Abasa, sebelum Surat Al-Buruj. Sedangkan menurut Ibnu Qarnas, surat Asy-Syams merupakan surat ke-17 yang turun setelah Surat At-Takwir, sebelum Surat Al-Lail.

1. Nama Surat

Nama surat ini (ismu as-surah) adalah Asy-Syams yang berarti matahari.

2. Kesesuaian Penamaan

Mengenai kesesuaian penamaan (munasabatu at-tasmiyah) surat ini, Syekh Adil Muhammad Khalil menjelaskannya secara singkat mengapa surat ini dinamakan Asy-Syams. Beliau menuliskannya di kitab Awwal Marrah at-Tadabbur al-Qur’an:

لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى بَدَأَ القَسَمَ بِهَا فِي مَطْلَعِ هٰذِهِ السُّورَةِ

Karena Allah Ta’ala memulai sumpah dengannya pada permulaan surat.

3. Tema Utama

Syekh Adil Muhammad Khalil juga menyebutkan tema utama (al-maudhu’ ar-ra’isiy) surat ini. Beliau mengatakan:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّى نَفْسَهُ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّى نَفْسَهُ

Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dan merugilah orang yang menodainya.

Baca juga: Mahabbatullah

Makna Global Surat Asy-Syams Ayat 1-10

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (۱) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا (٢) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا (٣) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (٤) وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا (٥) وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا (٦) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (۸) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (۱۰)

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya,dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 1-10)

Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan menyebut 11 makhluk-Nya sebelum menjelaskan keberuntungan dan kerugian. Keberuntungan bagi orang yang menyucikan jiwanya dan kerugian bagi orang meng mengotori jiwanya.

Allah bersumpah dengan menyebut matahari dan cahaya dhuhanya. Maka, terbayanglah suasana pagi yang hangat serta tanda kekuasaan Allah berupa bola gas panas raksasa (plasma) yang menjadi wasilah utama kehidupan dan pengatur iklim di Bumi, serta menjaga semua planet tetap dalam orbitnya karena gravitasinya. Sayyid Qutb dalam At-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an menjelaskan, ketika seorang muslim membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya, setiap kali membaca ayat seperti ini akan muncul imajinasi yang hidup dalam hatinya. Ia membayangkan apa yang Al-Qur’an bicarakan. Di sinilah pentingnya memahami isi Al-Qur’an.

Lalu Allah bersumpah dengan bulan apabila mengiringinya yakni ketika matahari tenggelam, bulan mengiringinya dengan tampak di langit yang sebelumnya ia tidak kelihatan saat matahari terang dan atmosfer bumi menyebarkan cahaya biru langit. Meskipun sejatinya bulan ada di sana sekitar 25 hari dalam sebulan.

Kemudian Allah bersumpah dengan siang yang menampakkan matahari dan malam yang menutupinya. Artinya, ketika matahari terlihat, itulah siang hari. Ketika matahari sudah terbenam, itulah malam hari. Setelahnya, Allah bersumpah dengan menyebut langit dan pembinaannya serta bumi dan penghamparannya. Jika kita perhatian, Allah menyebut makhluk-makhluk yang berpasangan pada awal Surat Asy-Syams ini. Matahari dengan bulan, siang dengan malam, langit dengan bumi. Lalu Allah akhiri dengan penyebutan jiwa manusia dan penyempurnaan penciptaannya. Memberi kesan bahwa jiwa manusia yang telah Allah sempurnakan merupakan puncak tanda kekuasaan-Nya. Sekaligus mengisyaratkan manusia harus menjaga keseimbangan tiga unsur penciptaannya yakni ruh, akal, dan jasad.

Setelah itu Allah menjelaskan bahwa Dia memberi manusia ilham sehingga bisa memilih untuk bertaqwa atau durhaka. Apa pun yang manusia pilih, pasti membawa konsekeunsi. Bagi orang-orang yang memilih bertaqwa dengan menyucikan jiwanya, maka ia pasti memperoleh keberuntungan berupa kebahagiaan di dunia dan nikmat abadi di surga. Sedangkan orang-orang yang memilih durhaka dengan mengotori jiwanya, maka ia pasti memperoleh kerugian berupa kesengsaraan di dunia dan siksa neraka.

Baca juga: Muraqabah

Pelajaran-pelajaran Penting

Ada banyak pelajaran-pelajaran penting (ad-durus al-mustafadah) dari Surat Asy-Syams ayat 1-10, antara lain lima poin sebagai berikut:

1. Sebelas sumpah dengan ayat-ayat kauniyah

Pada awal Surat Asy-Syams ini, Allah bersumpah dengan menyebut 11 makhluk-Nya yaitu:

  1. Matahari
  2. Dhuha
  3. Bulan
  4. Siang
  5. Malam
  6. Langit
  7. Pembinaan langit
  8. Bumi
  9. Penghamparan bumi
  10. Jiwa
  11. Penyempurnaan jiwa

Tujuannya adalah agar manusia memperhatikan 11 poin tersebut yang semuanya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Ketika manusia merenungkan semuanya, maka dia akan menyadari kemahakuasaan Allah dan keesaan-Nya.

Selain itu, sumpah ini juga menunjukkan agungnya tazkiyatun nafs sebagaimana penjelasan Syaikh Amru Khalid dalam Khawatir Qur’aniyah:

أَقْسَمَ اللَّهُ فِي هٰذِهِ السُّورَةِ بِإِحْدَىٰ عَشْرَةَ قَسَمًا، وَهٰذَا أَكْبَرُ عَدَدٍ فِي سُورَةٍ وَاحِدَةٍ، وَذٰلِكَ لِعِظَمِ الْمُقْسَمِ عَلَيْهِ، وَهُوَ فَلَاحُ مَنْ تَزَكَّى، وَخَيْبَةُ مَنْ دَسَّى نَفْسَهُ

Allah bersumpah dalam surah ini dengan sebelas sumpah, dan ini merupakan jumlah sumpah terbesar dalam satu surah. Hal itu menunjukkan keagungan perkara yang dijadikan objek sumpah, yaitu keberuntungan orang yang menyucikan dirinya dan kegagalan orang yang mengotori jiwanya.

2. Penyempurnaan jiwa manusia

Di ujung sumpah-Nya, Allah menyebut penyempurnaan jiwa manusia. Yakni firman-Nya:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

dan jiwa serta penyempurnaannya, (QS. Asy-Syams: 7)

Maka, kita perlu mensyukuri penciptaan jiwa kita. Allah menyempurnakan jiwa manusia dengan fitrah sebagaimana penjelasan para mufassir.

“Yaitu penciptaannya yang sempurna dengan dibekali fitrah yang lurus lagi tegak,” kata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

“Allah bersumpah dengan jiwa manusia yang diciptakan seimbang berdasarkan fitrah yang kuat,” terang Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir.

3. Manusia diberi ilham dan pilihan

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS. Asy-Syams: 8)

menunjukkan bahwa Allah memberikan ilham kepada manusia untuk memilih kefasikan atau ketaqwaan. Inilah aqidah yang benar. Tidak seperti Jabariyah yang meyakini bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas (ikhtiar) dan semua perbuatannya sepenuhnya dipaksa atau ditentukan oleh Allah. Namun juga tidak seperti Qadariyah yang meyakini bahwa manusia memiliki kehendak bebas dan kekuatan (qudrah) mutlak untuk melakukan perbuatannya sendiri, tanpa campur tangan Allah.

“Maka ia dibekali dengan potensi-potensi yang sama untuk berbuat baik atau buruk, mengikuti petunjuk atau kesesatan. Ia mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk sebagaimana ia juga mampu mengarahkan jiwanya kepada kebaikan atau keburukan,” kata Sayyid Qutb dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an.

4. Keberuntungan bagi yang menyucikan jiwa

Pelajaran penting berikutnya adalah keburuntungan bagi orang yang menyucikan jiwanya atau melakukan tazkiyatun nafs. Sebagaimana firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya. (QS. Asy-Syams: 9)

Bagaimana cara menyucikan jiwa? Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip maqalah dari Qatadah: “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan dirinya dengan taat kepada Allah dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang hina.”

Keberuntungan apa yang akan ia peroleh? Syaikh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskannya dalam Tafsir Al-Munir: “Orang yang menyucikan, mendidik, dan meningkatkan dirinya dengan ketakwaan dan amal shalih, sungguh telah berhasil mendapatkan segala yang ia minta dan inginkan.”

5. Kerugian bagi yang mengotori jiwanya

Sebaliknya, merugilah orang yang mengotori jiwanya. Jiwa yang telah Allah sempurnakan dengan fitrah tetapi kemudian justru terus menerus ternoda dan terkotori karena penyakit-penyakit hati.

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.(QS. Asy-Syams: 10)

Dalam Tafsir Al-Munir, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menegaskan tafsir ayat ini.

“Sungguh merugi orang yang menyesatkan dan membiarkan dirinya, tidak mendidiknya, dan tidak menggunakannya dalam beribadah dan beramal shalih,” tulis ulama yang juga penulis Fiqih Islam wa Adillatuhu ini.

Buya Hamka menjelaskan bagaimana jiwa yang kotor dan apa akibatnya.

“Kotor jiwa sebab syirik, dendam, benci, kufur, atau munafik. Kekotoran membuka segala pintu kejahatan yang besar, seperti kaum Tsamud,” kata Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar.

Baca juga: Doa

Implementasi dalam Kehidupan

Surat Asy-Syams ayat 1-10 memberikan arahan fundamental bagi seorang Muslim dalam membangun kepribadian islami (Syakhshiyah Islamiyah). Berikut adalah langkah-langkah nyata dalam mengamalkannya:

1. Menguatkan tauhid melalui tafakur alam

Sumpah Allah yang beruntun melalui matahari, bulan, siang, malam, dan langit (ayat 1-6) bukanlah sekadar rima, melainkan undangan untuk bertafakur.

Di antara implementasi praktis, seorang mutarabbi (peserta didik) hendaknya meluangkan waktu sejenak untuk memandang alam—baik saat terbitnya fajar maupun gelapnya malam—seraya menyadari keagungan Sang Pencipta. Kesadaran akan keteraturan alam semesta ini harus membuahkan ketundukan mutlak bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan ditaati.

2. Menjaga fitrah diri dengan pendidikan dan keteladanan

Allah telah menyempurnakan penciptaan jiwa manusia (ayat 7). Jiwa ini lahir dalam keadaan fitrah yang cenderung pada kebenaran.

Dalam proses tarbiyah, menjaga fitrah dilakukan dengan cara menuntut ilmu syar’i secara kontinu dan mencari lingkungan yang shalih. Kehadiran murabbi atau sosok teladan sangat penting sebagai cermin hidup yang membantu menjaga agar fitrah kita tidak menyimpang dari jalan Allah.

3. Menyucikan diri dengan amal shalih dan muhasabah

Ayat 9 memastikan keberuntungan hakiki (al-falah) hanya dicapai melalui proses tazkiyatun nafs yang tiada henti.

Di antara impelentasi dalam kehidupan, lakukanlah amal-amal shalih, baik yang wajib maupun yang sunnah, sebagai sarana pembersih hati. Selain itu, budayakanlah muhasabah (evaluasi diri) setiap malam sebelum tidur. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah hari ini jiwaku lebih bersih, atau justru makin kotor oleh kemaksiatan?”

4. Mengendalikan nafsu dan mengekang syahwat

Allah mengilhamkan dua jalan: jalan fujur (kedurhakaan) dan jalan takwa (ayat 8). Membiarkan jiwa mengikuti fujur akan membawa pada kerugian yang nyata (khaba).

Seorang muslim harus memiliki kemampuan mujahadatun nafs. Ini berarti berani berkata “tidak” pada keinginan syahwat yang melanggar syariat dan mengekang hawa nafsu yang mengajak pada kemalasan. Mengendalikan nafsu adalah kunci agar kita tidak terjebak dalam nasib tragis kaum Tsamud yang Allah sebutkan pada ayat-ayat berikutnya.

Demikian Surat Asy-Syams ayat 1-10 mulai dari nama surat, tema utama, hingga pelajaran penting dan implementasi dalam kehidupan. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya dan mendapatkan keberuntungan karena menyucikan jiwa. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/Tarbiyah]

Exit mobile version