Beranda Tazkiyah Jawaban Jin atas “Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” Membuat Rasulullah Kagum

Jawaban Jin atas “Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” Membuat Rasulullah Kagum

0
fabiayyi ala irabbikuma

Kalimat “Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” (فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) diulang sampai 31 kali dalam Surat Ar Rahman.

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”

Kalimat ini ditujukan kepada manusia dan jin sehingga menggunakan kata Rabbikuma (رَبِّكُمَا) yang artinya “Tuhan kamu berdua”. Menyadari ditujukan kepada mereka, setiap kali dibacakan ayat-ayat ini jin menjawab dengan jawaban yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kagum.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah membacakan surat Ar Rahman di hadapan sahabat-sahabat beliau. Kemudian beliau bersabda:

مَالِيْ أَسْمَعُ الْجِنَّ أَحْسَنُ جَوَابًا لِرَبِّهَا مِنْكُمْ

“Mengapa aku mendengar jin lebih baik jawabannya kepada Tuhannya daripada kalian?”

Kemudian mereka bertanya, “Bagaimana jawabannya, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda:

مَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِ اللَّهِ تَعَلَى فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ اِلَّا قَالَتِ الْجِنُّ لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِ رَبِّنَا نُكَذِّبُ

Tidak sekali-kali aku sampai pada firman-Nya, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan” melainkan jin menjawab, “Tiada satu nikmat-Mu pun wahai Tuhan kami yang kami dustakan”

Dalam Tafsir Al Munir, Syaikh Wahbah Az Zuhaili mengemukakan hadits dari Jabir bin Abdillah. Ketika Rasulullah membacakan Surat Ar Rahman, para sahabat diam. Maka beliau bersabda: “Mengapa aku melihat kalian semua diam? Sungguh respon jin lebih baik daripada kalian.”

Rupanya setiap kali Rasulullah membaca ayat

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”

Mereka menjawab

لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِ رَبِّنَا نُكَذِّبُ

“Tiada satu nikmat-Mu pun wahai Tuhan kami yang kami dustakan”

Mengapa fabiayyi ala irabbikuma tukazziban diulang 31 kali

Lalu mengapa diulang hingga 31 kali? Tentu pengulangan ini adalah hak prerogatif Allah dan hanya Dia-lah yang benar-benar mengetahui hakikat di baliknya. Namun di antara hikmah yang bisa dipetik, selain mengingatkan agar jin dan manusia menyadari bahwa seluruh nikmat itu datangnya dari Allah, pengulangan itu juga menunjukkan betapa pentingnya syukur atas nikmat-nikmat tersebut.

“Kalimat ini (Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan) memerintahkan jin dan manusia untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan tidak mendustakannya,” kata Syaikh Amru Khalid.

“Kalimat ini diulang 31 kali untuk mengingatkan dengan kuat tentang nikmat-nikmat Allah, menjadikan jin dan manusia mengakui nikmat-nikmat tersebut sekaligus menggaris bawahi pentingnya nikmat-nikmat itu,” terang Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir.

Sedangkan Imam As Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur`an menjelaskan bahwa pengulangan kalimat Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan itu untuk memantapkan pemahaman dan menekankan betapa pentingnya bersyukur atas nikmat-nikmat itu setelah menyadarinya bahwa ia datang dari Allah Azza wa Jalla.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa 31 kali pengulangan fabiayyi ala irobbikuma tukadziban ini terbagi dalam empat kelompok uraian.

  1. Berkaitan dengan keajaiban ciptaan Allah yang terhampar di bumi dan di langit serta penciptaan dan kebangkitan. Ini diselingi 8 kali pertanyaan tersebut.
  2. Berkaitan dengan siksa neraka.  Ini diselingi dengan 7 kali pengulangan.
  3. Berkaitan dengan penghuni surga dan aneka kenikmatannya. Ini diselingi dengan 8 kali pengulangan.
  4. Berkaitan dengan dua surga yang tidak sama dengan surga pada kelompok uraian ketiga. Ini diselingi dengan 8 kali pengulangan.

“Siapa yang mengakui dan mensyukuri nikmat Allah yang terhampar di langit dan di bumi, ia akan terhindar dari pintu neraka yang jumlahnya 7 dan dipersilakan masuk surga yang jumlahnya 8,” demikian kesimpulan Al Jamal dalam Haasyiat-nya terhadap Tafsir Al Jalalain. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK ~ Tarbiyah]

Exit mobile version